by SeRaviizZ-fantasy
Namaku Miwa, aku anak pertama
dari dua bersaudara, kami perempuan, adikku berama Michiyo, kami sering
bertengkar tapi itulah caraku menyampaikan rasa sayangku padanya, dia memang
agak manja dan sering membuatku kesal tapi dialah satu-satunya adik yang aku
punya. Ayahku bernama Kuniumi adalah orang yang amat sangat lembut dan baik, ia
selalu bersahabat terutama pada teman-temannya dan anak-anaknya, dia lucu dan
mengasyikkan, dia adalah ayah terhebat yang pernah aku miliki. Dia jago
memotret, aku sangat senang melihat hasil potretannya. dan ibuku bernama Misaki,
beliau bekerja disebuah perusahaan kesehatan yang khusus meneliti berbagai
jenis penyakit terutama yang disebabkan oleh virus dan bakteri, ibuku adalah
orang yang sangat lembut dan tegas tapi itulah bagian yang aku suka, beliau
pandai memasak dan aku sangat menyukai masakannya. Keluarga kami hidup dalam
keadaan sederhana tidak terlalu mewah dan tidak terlalu miskin, sederhana saja.
Kedua orangtuaku bekerja hampir setiap hari, jadi kami hanya bisa berkumpul
pada sore hari, itu juga kalau mereka tidak sibuk, jika mereka sibuk mungkin
seminggu atau bahkan sebulan lebih kami hampir tidak bertemu.
Sebelum
Michiyo lahir dan aku masih di TK, ibuku selalu menitipkanku kepada nenekku
ketika beliau hendak bekerja, ayahku pergi kerja pagi sekai karena ketika aku
tahu ayahku pergi aku sering menangis tidak mau ditinggal. Dari mulai sekolah
hingga sore hari aku selalu bermain dengan nenekku dan anak-anak disekitar
rumah nenekku. Tapi sayangnya, mereka selalu menganggap remehku dan selalu
memanfaatkanku untuk melakukan apapun yang mereka mau. Terkadang aku merasa
sedih diperlakukan seperti itu tapi aku tidak punya pilihan lain. Saat Michiyo
lahir, aku mulai kehilangan perhatian, aku pikir ini wajar-wajar saja, Michiyo
masih kecil dan masih membutuhkan perhatian lebih dari kedua orangtuaku. Sedangkan
aku harus mulai bisa merawat diriku sendiri, aku mulai beranjak dewasa.
“Mungkin
sekarang Michiyo lebih diperhatikan, tapi ada saatnya kamu akan diperhatukan
lebih dari Michiyo, bersabarlah Miwa” ujar ibuku sambil membelai kepalaku
dengan lembut.
Aku
memiliki satu teman yang seumuran denganku dia adalah sahabat terbaikku,
namanya adalah Sachiyo atau akrab dipanggil dengan Sachi. Kami memiliki banyak
kesamaan, asyiknya lagi kami memiliki hobi yang sama, walaupun Sachi lebih muda
satu tahun dan sifatnya yang kekanak-kanakan kami bisa mengerti satu sama lain,
kalau ada waktu senggang, seringnnya sih hari libur, aku dan Sachi selalu
bermain bersama hingga lupa waktu dan kami sering sekali kena marah, tapi
bagiku itu sangat mengasyikan, tidak ada yang lebih menyenangkan selain bermain
dan bercandaria dengan Sachiyo. Tapi karena aku selalu dititipkan pada nenekku,
kami jadi jarang bertemu.
Aku
sangat senang bermain dengan Sachi, Sachi adalah sahabat yang selalu menemaniku
dan menghilangkan rasa kesepianku, hanya ia yang bisa. Tapi sayangnya saat kami
masih duduk dibangku SD Sachi dan keluarganya harus pindah ketempat yang jauh, karena
pekerjaan ayahnya, mereka pindah ke salah satu Negara di Eropa. Aku sedih,
sahabatku satu-satunya harus menjauh dariku selama 5 tahun. Tapi walaupun
begitu kami membuat janji akan meraih mimpi bersama-sama dan selalu bersama.
Saat Sachi pergi kini aku benar-benar kesepian aku berharap dapat bertemu Sachi
secepat mungkin. Aku ingin mendapat banyak teman agar aku tidak kesepian, aku
tidak ingin kedua orangtuaku khawatir karena melihatku kesepian. Aku harus
mencari banyak teman. Ambisi inilah yang terkadang malah menjerumuskanku dan
orang lain, keinginanku yang ingin menghapuskan rasa kesepian ini terkadang
membuat teman-temanku semakin menjauh. Kenapa?
Jawabannya
sangat jelas, seringkali aku mengada-ngada sesuatu yang bukan atau bahkan tidak
aku miliki, aku sering membual tentang diriku dan keluargaku, aku sering
bercerita tentang suatu hal yang bukan diriku. Bagaikan anak kecil yang ingin
diperhatikan oleh teman-temannya, dengan kata lain aku sering BERBOHONG.
Aku
hanya ingin mendapat teman, walaupun aku menyadari bahwa apa yang aku lakukan
itu salah besar, berbohong memang terasa manis diawal tapi suatu saat
kebohongan itu akan terbongkar dan akan menimbulkan rasa pahit yang luar biasa.
Hal ini membuat hari-hariku disekolah terasa tidak nyaman, orang-orang seringkali
menatapku dengan tatapan yang penuh dengan rasa kebencian terhadap diriku dan bertanya
tentang kebohonganku dan akupun seringkali kebingungan menanggapi pertanyaan
mereka. Sebenranya aku sangat takut kehilangan teman-temanu tapi aku sendirilah
yang membuat mereka menghindar dariku, harusnya aku segera sadar akan hal itu,
tapi nyatanya sudah terlambat, hanya beberapa orang yang tahan dengan
kebohonganku, entah sampai kapan mereka bertahan.
Hari
berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti
tahun. Kini usiaku sudah menginjak 16 tahun. Sekarang aku kelas 3 SMA dan
sebentar lagi akan melanjutkan ke perguruan tinggi, entah mengapa terkadang aku
merasa sangat sedih. Harusnya tahun ini aku benar-benar konsentrasi untuk
menghadapi ujian. Tapi, tahun ini merupakan cobaan terberatku, nilaiku mulai
menurut saat aku kelas 2 SMA semester akhir, mungkin gara-gara teman-teman
kelasku saat itu sangat tidak menyenangkan mereka selalu memanfaatkanku untuk
mengerjakan tugas mereka apalagi tugas kelompok, pasti hanya aku dikelompok
tersebut yang mengerjakannya. Ibuku mulai sibuk, beliau sampai mendapat
panggilan untuk kerja diluar negeri, beliau sering sekali pualng larut dan
capek sehingga terkadang emosinya meluap. Sekolah Michiyo seringkali meminta
sumbangan atau anggaran dengan jumlah uang yang tidak sedikit. Ditambah lagi
yang paling menyedihkan adalah ayahku seringkali keluar masuk pekerjaan dan
kini ia terdaftar sebagai pengangguran.
“
Kita harus bisa beradaptasi dengan pekerjaan, jangan merasa tidak enak dengan
pekerjaan itu lalu kita keluar begitu saja” itulah nasehat ayahku yang sering
dilontarkan padaku
Ya,
aku adalah orang yang sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, aku
paling tidak bisa terbuka dengan orang lain, walaupun bercerita kepada orang
lain, tidak sepenuhnya kuceritakn semua kisah yang ingin kusampaikan pada
seseorang itu kuungkapkan semuanya, pasti ada beberapa bagian yang aku sembunyikan.
Inilah yang membuat diriku capek melahap emosi sendiri, jika ini terjadi aku
sering menuangkan emosiku lewat sebuah gambar atau cerita atau puisi. Dan aku
berencana untuk melanjutkan studiku ke Fakultas Seni. Tapi….Terkadang aku
merasa sedih jika memikirkan semua ini dan aku hampir saja berfikir untuk
berhenti sekolah dan bekerja. Tapi ibuku sering memintaku belajar dengan giat
agar aku bisa masuk perguruan tinggi negeri yang biayanya lebih murah daripada
perguruan tinggi swasta.
Aku
selalu berusaha disekolah, aku selalu bekerja keras dan melakukan apapun yang
aku bisa. Tapi terkadang suasana dirumah kurang mendukung, seringkali aku kena
marah orangtuaku gara-gara hal-hal sepele. Aku capek, mereka tidak mengerti
bahwa sebenarnya aku ingin santai, belajar dirumah tidak masalah bagiku. Tapi karena
orangtuaku ingin aku pergi sekolah dan mendapat tambahan ilmu maka keinginan
mereka aku penuhi, akupun sekolah dengan senang hati. Aku ikut senang ketika
melihat mereka bahagia. Tapi terkadang aku merasa mereka kurang mendukung apa
yang aku lakukan, aku selalu menuruti perintah mereka, selalu. Tapi kenapa
mereka selalu memaksaku untuk melakukan sesuatu yang mereka inginkan, aku
mengerti mereka pasti sangat ingin aku sukses dan bahagia tapi bukan begini
caranya! Aku ingin memilih jalanku sendiri aku tidak ingin selalu bergantung
kepada keputusan mereka. Ideku sering bertolak belakang dengan ide mereka, tapi
demi keinginanku membahagiakan mereka aku sering menahan kemauanku jauh dari
lubuk hatiku, dan benar-benar terbukti, minatku pada Seni mulai berkurang, aku
malah mengalikan minatku pada apa yang telah menjadi pilihan orantuaku. Lama-lama
aku mulai mengalami tekanan batin, kondisi tubuhku mulai menurun sehingga
membuatku menjadi sering sakit. Emosiku tidak terkontol, aku mudah tersentuh. Aku
sering sekali berusaha mengontrol emosiku yang meluap-luap, tapi sayangnya aku kesulitan
untuk mengatasi masalah ini, kadang-kadang luapan emosi itu disertai dengan
kadaan pikiranku yang kacau atau keadaan tubuhku yang kurang fit dan tentu saja
batinku ini. Aku sering menangis mengenai hal-hal sepele, sebenarnya aku tidak
mau menangis tetapi batinku terus menekan untuk membuatku mengeluarkan airmata.
Hal ini sering membuat kedua orangtuaku terutama ibuku menjadi kesal dan
kebingungan.
“
Kamu kenapa sih?! Tiba-tiba menangis, apakah ibu harus membawamu ke Psikiater
dan memeriksa keadaan jiwamu?”
Atau
“
Kamu tuh kaya anak yang tidak normal saja, orang-orang bisa saja menyangka kamu
itu autis, apalagi mereka yang tidak mengenal kamu yang sebenaarnya!”
Mendengar
kata-kata itu, solah-olah sebuah kata muncul dibenakku “Akankah ada orang yang
akan merasa kehilangan dan menangis ketika aku telah meninggal nanti?”
Sering
sekali aku mendengar kata-kata menyakitkan itu, bahkan terlalu menyakitkan
untuk diucapkan seorang ibu kepada anaknya sendiri. Ibuku tidak mengerti, ia
menolak untuk mengerti. Aku hanyalah gadis kesepian yang ingin diperhatikan
kedua orangtuanya, semenjak aku kecil aku hanya bagaikan anak titipan yang
tidak dibutuhkan yang kuinginkan hanya satu, “ Perhatian”. Mereka selalu
bekerja dan memberikan benda apapun yang aku mau. Tapi bukan harta atau benda
yang aku mau! Aku hanya ingin kasih sayang mereka, sepenting itukah pekerjaan
mereka? Sampai-sampai ketika kehilangan pekerjaan seolah-olah dunia sudah
kiamat.
Apakah
mereka berpikir jika mereka mengabulkan semua keinginanku maka aku akan merasa
senang, bahagia bahkan tidak kesepian?
Jika
aku harus menjawab pertanyaan itu maka aku akan menjawab TIDAK. Tidak satupun
anak dimuka bumi ini yang tidak menginginkan kehadiran orangtua mereka
disampingnya, kuhargai pengorbanan mereka, kuhargai usaha mereka. Jadi aku
mohon, HARGAILAH AKU. Aku ini anakmu.
Ya Tuhan, apabila Engkau mendengar do’aku, aku ingin kedua orangtuaku sehat lahir
batin, aku ingin kedua orangtuaku selalu bersama dan berbahagia, aku ingin
mereka mengerti jalan yang aku pilih sendiri, aku tidak ingin menjadi beban
mereka dan aku tidak menginginkan mereka menjadi beban bagiku, tumbuhkanlah
rasa saling mengerti diantara kami. Michiyo, aku ingin kamu menjadi lebih
bahagia dari kakakmu ini, menjadi anak yang berbakti kepada orangtua. Ayah, aku
ingin ayah bisa bekerja lagi, aku sangant senang mendengar cerita ayah tentang
pekerjaan ayah, ayah terlihat begitu senang bercerita tentang pengalaman ayah
saat bekerja. Ibu, aku ingin ibu selalu merawat dan menjaga kami, karena hanya
engkaulah obat yang ada dikeluarga kami, obat yang dapat menyembuhkan apapun. Dan
aku, Miwa, aku hanya menginginkan kehendak-Mu yang terbaik bagi kami,
jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa bersandar hanya kepada-Mu. Kumohon
dengarkanlah do’aku.
" Inilah
do’aku…"