Kamis, 13 September 2012

Cerpen Perjalanan Terakhir (End)


Tiba-tiba menjadi semakin cerah, seketika siluet sinar matahari menembus awan membuat semuanya tampak lebih jelas, pelangi yang tadinya samar-samar mulai terlihat berkat paduan percikan air dan pancaran matahari yang semakin cerah. Tanpa pikir panjang seluruh anggota KPA turun ke aliran sungai bahkan ada pula yang bermain dekat air terjun, menikmati suasana cerah saat itu. Mereka berterima kasih kepada Sandi telah mengajak mereka melihat keindahan pemandangan ini.
Kak Bagus berlari menghampiri mereka semua sambil membawa kamera untuk berfoto didekat air terjun, latarnya sangat indah dan semuanya terlihat senang, keluhan dan rasa capek mereka diobati dengan keindahan panorama yang jarang mereka temui itu. Sandi sangat senang melihat teman-temannya begitu bahagia. Ingin rasanya ia bersama mereka lebih lama, terkadang antara melihat kebahagiaan itu dan mengingat kematian akan segera menjemputnya membuat Sandi semakin takut akan datang hari dimana ia tidak dapat melakukan apa-apa lagi.
“ Mungkin ini perjalanan terakhirku bersama mereka” Bisiknya.
Mereka pun kembali, Sandi merasa lebih baik saat perjalanan pulang. Semuanya bergembira mengantarkan Sandi kembali ke rumah sakit karena ia berjanji akan mengikuti perwatan serius sepulang dari perjalanan mereka. Tetapi tidak ada yang menyadari bahwa saat itu Sandi sedang mengalami masa-masa kritis, mereka meninggalkan Sandi tanpa mengetahuinya.
Setelah menjalani beberapa pengobatan dan sedang beristirahat, tiba-tiba pandanganya mulai kabur, pernapasannya mulai terganggu dan badannya pun mulai melemah. Kali ini lebih hebat dari biasanya, dan semakin berat bagaikan bernapas diruang hampa udara, ia menahan kelopak matanya yang perlahan mulai menghalangi pandangannya.  Tetapi ia tak kuasa menahan rasa capeknya itu, dan ia pun tertidur.
Beberapa bulan kemudia, hasil kelulusan sudah dapat dilihat. Mereka semua lulus, tentu saja ini kabar yang menggembirakan bagi semuanya. Pesta kelulusan pun dilaksanakan, siswa-siswi yang baru lulus itu pun merasa senang dengan hasil jeripayah selama ini. Satu-persatu nama mereka dipanggil untuk naik ke atas panggung dan menerima penghargaan, setelah itu mereka bersalaman satu sama lain saling memberi selamat.
“ Miwa! “
“ Kak Bagus? Kak Herdi? kenapa Kakak ada disini?”
“ Oh, Kami kebetulan mau memberikan ini “ Kak Herdi mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya.
Miwa memperhatikan alamat yang dituju pada amplop itu, ia pun segera berlari menuju tempat tersebut diikuti oleh Kak Bagus dan Kak Herdi dibelakangnya.
 “Sandi Sandi ! Universitas favoritmu menggundangmu menjadi mahasiswa mereka! Hebat kan?” Miwa berlari-lari sambil membawa beberapa carik kertas.
“ Aku simpan disini supaya kamu bisa lihat, kamu pasti senang kan? Selamat ya! “
Miwa terdiam menatetapi amplop yang baru saja ia simpan dan perlahan-lahan mulai menjatuhkan lututnya di tanah, Miwa tak kuasa menahan tangis dan sedihnya, air matapun mengalir membasahi pipinya. Semakin lama ia melihat kertas itu semakin sedih persaannya ketika membayangkan Sandi akan merasa senang ketika menerima amplop itu.
Kak Bagus yang awalnya terdiam bergerak mendekati Miwa, ia membantu Kak Herdi menenangkan Miwa. Sudah dua bulan berlalu semenjak terakhir kali mereka bertemu Sandi, penyakit TB yang diderita Sandi mengganas hingga membuat pemuda ini harus kehilangan nyawanya. Semua orang yang mendengar berita ini turut berduka cita.
Dari kejauhan seorang dokter datang sambil membawa secarik kertas, ia menemukan kertas itu di kasur tempat Sandi menjalani perawatan. Dokter itu memberikan kertas yang ia bawa kepada Kak Herdi.
“ Sandi ingin kalian membacanya “ Kata dokter itu.
Tanpa berpikir panjang lebar, Kak Herdi membuka surat itu dan mulai membacakannya isisnya.

Untuk Kak Bagus, Kak Herdi, dan Miwa.
Maafkan aku, mungkin ketika kalian membaca surat ini aku tidak bisa bersama kalian.Terima kasih sudah setia menemaniku selama ini, kalau tidak ada kalian mungkin aku tidak akan sebahagia ini, aku adalah orang yang sangat beruntung dapat bertemu kalian. 

Mungkin kalian sudah tahu, sebelumnya aku hanyalah anak jalanan yang tidak punya apa-apa. Tetapi, semenjak aku bertemu keluarga Kak Bagus dan tinggal bersama mereka, hidupku berubah. Kak Bagus menganggapku sebagai adiknya sendiri, Kak Bagus juga mengenalkanku dengan Kak Herdi, sahabat terbaiknya dan juga merupakan seorang pemimpin yang hebat, maafkan aku ya Kak,aku selalu menjahili Kak Herdi, mungkin sekarang kakak merasa tenang aku tidak menjahili kakak lagi, hehehe . Aku sangat terharu kakak-kakak mati-matian mencari uang demi aku, aku ingin membalasnya tetapi aku tidak bisa. Semoga uang asuransiku nanti dapat menggantikannya. Aku juga bertemu Miwa yang cerewet tetapi juga perhatian dan baik hati, maaf aku selalu merepotkanmu selama ini. Hanya satu pintaku, setelah aku meninggal aku mohon jangan lupakan aku. Setelah aku renungkan, ternyata  yang membuatku takut dengan kematian karena orang-orang akan melupakanku begitu saja, aku tidak mau menjadi terlupakan lagi, tetapi jangan juga sedih aku ingin kalian selalu tersenyum. Permintaanku tidak buruk kan?

Oh mungkin cuma itu yang dapat aku sampaikan, sepertinya waktu sedang tidak berpihak padaku. Ayah dan bundaku sepertinya sudah menungguku dan aku ingin sekali bertemu mereka dan melihat wajah mereka, teman-teman aku pergi dulu ya? Aku berharap walaupun kita terpisah persahabatan ini akan terus berlangsung.

Aku selalu berdo’a agar kalian senantiasa diberi kebahagiaan dan umur yang panjang. Maaf suratku mungkin tidak sebagus karya-karya sastrawan ternama. Oh iya! Perjalanan terakhirku bersama kalian sangat menyenangkan! Terima kasih ya!
–Sahabatmu, Sandi –

Kesedihan mereka membuat air mata tak tertahankan lagi merasa kehilangan Sandi, Kak Herdi tidak bisa berkata apa-apa begitu juga Kak Bagus. Suasana mengharu biru tercipta didepan makam seorang pemuda yang hebat. Sandi, adalah seorang siswa yang luar biasa dan pantang menyerah, seorang siswa yang penuh dengan semangat muda dan sangat dikenal baik oleh orang-orang disekitarnya, ia terus berjuang dalam keadaan sehat maupun sakit bahkan hingga ajalnya menjemput. Sampai pada saat ia harus kembali kehadapan Sang Pencipta di usianya yang muda.

- SELESAI-

Cerpen Perjalanan Terakhir Part 2


Semenjak kejadian itu sudah tiga minggu Sandi tidak masuk sekolah, mungkin ia masih dalam masa pemulihan atau mungkin juga ia merasa bersalah pada teman-temannya, tidak ada yang tahu. Belum ada satu orang pun yang berinisiatif menjenguknya. Sepulang sekolah Miwa bersama Kak Herdi dan Kak Bagus memutuskan untuk mengunjungi Sandi. Pintu kamar Sandi tertutup rapat bagaikan tidak berpenghuni, Kak Bagus mengetuk pintunya tetapi tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi dan untuk ketiga kalinya tidak ada yang menjawab. Mereka pun memutuskan untuk mendobrak pintu itu.
“ Satu…dua…tiga! “ Kak Herdi memberi aba-aba.
BRUAK!
“ Adoooohhh ! “
Kak Herdi kaget melihat Sandi berada di balik pintu, mungkin Sandi hendak membukakan pintu untuk mereka tetapi Kak Bagus dan Kak Herdi malah mendobrak pintu itu lebih dulu jadinya pintu itu terbanting cukup keras dan mengenai Sandi hingga mulutnya berdarah.
Setelah Sandi selesai membersihkan darahnya, mereka pun bercakap-cakap membicarakan banyak hal. Tampaknya kondisi Sandi memang tidak memungkinkan untuk sekolah bahkan banyak yang menyarankan agar Sandi dirawat di rumah sakit sampai penyakitnya jelas tetapi Sandi menolak, ia tidak punya biaya untuk berobat ke rumah sakit.
 “ Kamu yakin tidak akan mengunjungi dokter ? “ Tanya Kak Bagus
“ Kalau cuma batuk-batuk dan demam ringan seperti ini sih kayanya akan sembuh dengan sendirinya, mungkin cuma masuk angin saja, besok aku sekolah deh…. “
 “ Sandi aku tahu kamu ingin sekali sekolah, utamakan dulu kesehatanmu “ Miwa menyela.
“ Aku tidak apa-apa, aku sudah bilang, kan?”
Tidak ada yang mengeluarkan kata-kata lagi setelah mendengar Sandi berkata begitu. Padahal  mereka sudah berusaha untuk membujuk Sandi pergi ke rumah sakit, mereka tahu Sandi tidak punya cukup biaya untuk berobat ke rumah sakit dan mereka sudah mengusahakan untuk membantunya tetapi tetap saja Sandi menolak tawaran itu, ia tidak mau merepotkan teman-temannya .
Keesokan harinya tepat seperti apa yang dikatakan Sandi, ia pergi ke sekolah. Seisi sekolah meributkan kedatangannya, tetapi keributan itu agak sedikit berbeda dari biasanya. Ditengah-tengah keributan itu samar-samar terdengar bisikkan bahwa mereka takut dengan kedatangan Sandi, mungkin beberapa orang sudah mulai menebak-nebak penyakit apa yang dideritanya.
Lama-lama isu itu pun mulai semakin menyebar. Walaupun begitu setiap hari selalu menyenangkan bagi Sandi sehingga ia melupakan kondisinya sendiri, ia beraktivitas seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa padanya. Dia pergi ke sekolah pagi sekali, memperhatikan guru dikelas, lalu berkumpul dengan teman-temannya pada waktu luang, atau belajar bersama dengan mereka. Saat berkumpul dengan anggota KPA kerap kali ia menjahili Kak Herdi hingga membuatnya kesal dan mengejar-ngejarnya walaupun sudah mengelilingi sekolah berkali-kali. Sejauh ini semuanya terlihat normal.
***
Suatu saat, KPA sedang latihan dipimpin oleh Sandi seperti biasanya, ia menggantikan Kak Bagus dan Kak Herdi yang sibuk kuliah. Cuaca yang cerah seperti itu membuat mereka bertambah semangat, apalagi cara Sandi memperagakan materi kepada mereka sangat jelas dan mudah dimengerti. Sandi pun merasa senang dapat berbagi ilmunya kepada teman-temannya. Dan lebih senang lagi sepertinya tanda-tanda penyakit yang menyerang Sandi mulai menghilang perlahan. Baru saja berpikir akan sembuh, ia kembali terbatuk sambil memegangi dadanya yang sakit hingga terduduk lemas.
“ Sandi kamu tidak apa-apa? “
“ Aku tidak apa-apa. Kamu kembali saja ke posisi  “
“ Dan membiarkan kamu seperti ini? Gak mungkin dong Sandi ! Ayo kita ke UKS ! “ Miwa menarik tangan Sandi.
“ Aku ga apa-apa k—uhuk! Uhuk! “
Miwa kaget melihat Sandi terbatuk seperti itu dan tidak disangka ia melihat tangan Sandi penuhi oleh cairan agak kental berwarna kemerahan. Ya,  darah, darah yang keluar dari mulutnya.
“ S—Sandi d-darah! “
Sandi pun terkejut ketika melihat darah keluar dari mulutnya, ia kira batuk itu sudah mulai membaik karena selama ini frekuensi batuknya mulai berkurang tetapi ternyata malah bertambah parah dan kini mengeluarkan darah segar. Ketika Sandi bergegas keluar dari ruang latihan untuk meredakan batuknya, badannya kembali terasa lemas dan ia pun ambruk seketika.
Ketika sadar Sandi sudah berada di sebuah ruangan serba putih dan tidak banyak benda dalam ruangan itu. Sandi berusaha bangun dan hendak kembali ke ruang latihan tetapi ia malah mendapati  Miwa, Kak Herdi dan Kak Bagus sedang berbicara dengan seorang dokter di depan pintu. Sandi yang penasaran apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai Kak Herdi dan Kak Bagus menyempatkan diri untuk datang ditengah kesibukan mereka di perkuliahan. Ia pun mendengarkan pembicaraan mereka diam-diam.
“ Dokter, sebenarnya apa yang terjadi pada Sandi?” Tanya Kak Bagus.
 “ Kalau boleh tahu memangnya Sandi sakit apa ? “ Kak Herdi pun ikut bertanya.
Sang dokter terdiam, mungkin beliau bingung akan menjelaskannya darimana dan bagaimana penyakit itu. Akhirnya dokter tersebut menggerakan mulutnya dan berbicara.
“ Tuberkulosis “
“ ia menderita Tuberkulosis stadium akhir, bakteri ini akan terus menggerogotinya selama sisa hidupnya ” Lanjut dokter.
“ Lalu…. Berapa lama Sandi akan bertahan ? “ Tanya Kak Herdi.
“Sayangnya penyakit ini sudah dideritanya sejak kecil, bakterinya pun sudah sangat berkembang. Mohon maaf, menurut pemeriksaan sepertinya ia akan bertahan tidak lebih dari 5-6 bulan “

Tuberkulosis, penyakit yang selama ini menjadi kasus besar dunia kesehatan dan menjadi perhatian khusus bagi WHO adalah penyakit yang sulit untuk diobati apalagi ketika mencapai stadium akhir. Ketika mendengar nama penyakit itu Miwa merasa seluruh tubuhnya luluh. Kak Bagus merasa tidak percaya dengan apa yang diderita Sandi adalah salah satu penyakit yang berada dalam jejeran penyakit yang mematikan. Kak Herdi semakin gelisah, ia pun tidak menyangka bahwa kenyataannya Sandi telah mengidap penyakit ini sejak kecil .
Sandi pun terkejut mendengar bahwa penyakit yang dideritanya adalah penyakit yang sangat akut. Fase batuk darah adalah fase terakhir dari Tuberkulosis (TB). Ketika hendak kembali ke tempat tidur untuk menenangkan diri, tidak sengaja ia membuat Kak Herdi dan yang lainnya menyadari kehadirannya. Sandi hanya bisa berdiri ditempat tanpa berani memandangi mereka.
“ Sandi, kamu dengar semuanya? “ Tanya Kak Bagus.
“Ya” Sandi menjawab pelan.
Sandi kembali terdiam, ia ingin sekali kembali ke sekolah tetapi disisi lain ia merasa takut apalagi mendengar nama penyakit yang dideritanya, ia masih menginginkan hidupnya yang kini hanya bisa bertahan paling lama beberapa bulan, itu pun jika mendapat pengawasan khusus dari tim medis. Perasaan dilema muncul pada diri Sandi.
“ Kak Bagus. Ijinkan aku melihat air terjun itu bersama dengan yang lain. “ Katanya dengan nada gemetar.
“ Tetapi kondisi badanmu tidak me—“
“Aku tahu. Karena itu untuk yang terakhir kalinya, aku hanya ingin melihat air terjun itu! Kumohon, aku tidak ingin membuat yang lain kecewa, ini semua gara-gara aku. Jika aku tidak seperti ini mungkin kami bisa menikmati keindahan air terjun itu!“
Kak Bagus, Kak Herdi dan Sandi pun mencoba berbicara lagi dengan dokter. Setelah berbicara dengan dokter-dokter lain Sandi pun diijinkan untuk pergi dibawah pengawasan yang ketat, dokter tidak dapat berbuat banyak. Mereka hanya berharap dengan keinginan Sandi yang terpenuhi ia menjadi lebih bersemangat untuk sembuh. Akhirnya pergilah mereka menuju air terjun yang sempat tertunda sebelumnya.
Anggota KPA yang lain mungkin banyak bertanya-tanya. Mungkin mereka merasa heran dengan acara yang dilaksanakan mendadak, terlebih lagi Sandi yang harusnya sedang sakit malah ikut dalam perjalanan tersebut, padahal kondisinya belum tentu memungkinkan untuk melakukan perjalanan.
Memang benar apa yang ada dibenak mereka, Sandi memang seharusnya tidak memaksakan diri. Ia selalu terbatuk disetiap perjalanan, sebentar-sebentar mereka harus beristirahat karena darah dari mulut Sandi tak ada henti-hentinya mengalir, sesekali suara mengi yang terdengar mengganggu mereka.
“ Hentikan Sandi ! “ kata salah satu dari mereka.
“ Kalau begini terus kamu akan—“
Sandi tidak menanggapi apa yang dikatakan teman-temannya, ia sibuk mengumpulkan energinya agar ia masih bisa terus berjalan sampai tempat tujuan. Ditambah lagi cuaca yang kurang bagus dan keadaan jalur menuju air terjun itu pun sangat sulit untuk dilalui sehingga mereka sering kali merasa kesusahan untuk membantu Sandi melewati tantangan itu.
“ Sandi kamu mau apa sih? “
“ Sandi menyerah saja deh! “
Keluhan dan rasa kesal anggota KPA mulai menjadi-jadi, tetapi Sandi tetap berjalan tanpa memedulikan mereka. Kak Bagus dan Kak Herdi pun tampaknya mulai kelelahan, tetapi mereka tetap membantu Sandi. Sering kali ada yang merencanakan meninggalkan barisan tetapi Kak Herdi menghentikan mereka, semakin lama kesabaran anggota KPA mulai menurun sehingga semakin sering Sandi mendengar ocehan bahkan ejekan agar Sandi menghentikan perjalanannya.
Beberapa kilometer telah ditempuh, dan akhirnya sampailah mereka ketempat yang mereka tuju. Semua anggota KPA terpana melihat keindahan air terjun itu. Percikan airnya sangat sejuk dan terdapat lekukan indah sebuah pelangi dari pancaran matahari yang bercampur dengan air menghiasi air terjun itu, di kiri dan di kanannya terdapat tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga yang indah. Aliran sungainya dihiasai berbagai bentuk dan ukuran batu-batu yang unik.. Ditengah kekaguman para anggota KPA, Sandi berbalik kearah mereka seraya berkata.
“ Maafkan aku, gara-gara aku kalian harus menunda perjalanan ini. Aku harap sekarang kalian tidak merasa menyesal melakukan perjalanan ini bersamaku,“
“ aku sangat menyesal telah membuat kalian kecewa, maafkan aku ya “
Mendengar Sandi berkata seperti itu, mereka terdiam seribu bahasa, merenungkan keluhan-keluhan mereka yang telah menggerakan Sandi sehingga ia rela melakukannya demi mengobati rasa kecewa teman-temannya padahal kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Mereka semua terharu dengan apa yang dilakukan Sandi, selama ini mereka hanya mengeluh dan menyalahkan semuannya pada Sandi dan kini mereka sadar betapa Sandi ingin melihat keindahan air terjun ini bersama mereka.
“ Kamu bodoh Sandi ! “ Kata salah satu dari mereka
“ Seharusnya kamu memberitahu kami dulu, kalau kamu terus seperti ini kamu akan—“
“ Mati, ya, aku sudah tahu. Semua orang pasti mati “ Sandi tersenyum.
Orang itu pun terdiam tidak bisa berkata apa-apa, mungkin Sandi sudah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, bagi Sandi kematian itu sudah didepan mata apa lagi kondisinya sudah menjadi alarm yang memberi memperingatan padanya terus-menerus. Mereka semua sangat menyesal pada apa yang mereka lakukan.
***

Cerpen Perjalanan Terakhir Part 1



Perjalanan Terakhir
Oleh Dinda Septiany
Cerita ini terinspirasi dari perjuangan hidup seorang samurai muda bernama Okita Soujiro Fujiwara no Harumasa atau dikenal dengan nama Okita Souji. Beliau adalah kapten pasukan divisi satu Shinsengumi, sebuah korps kepolisian yang dibentuk untuk melindungi ibu kota. Dalam usianya yang terbilang muda, beliau menguasai berbagai teknik pedang dengan cepat. Sayangnya, pada usianya yang ke 25 tahun, beliau harus meninggalkan dunia karena penyakit yang dideritanya.
 “ Sandi, nanti ajarin kita Matematika ya? “
“ Siap deh!”
Itulah Sandi, ia cukup populer disekolahnya. Dia anak yang baik, sopan, dan ramah kepada siapa saja, tidak sedikit siswi yang mengaguminya dan tidak sedikit pula siswa yang menjadi temannya atau mungkin ada juga yang mengaggap Sandi sebagai saingan mereka. Baik, sopan, dan pintar. Siapa yang tidak iri pada Sandi, semua pelajaran ia kuasai dengan baik. Bisa dibilang Sandi itu hampir sempurna, andai saja ia….
“ Sandi cepetan dong! Nanti kita dimarahin senior! “ Teriak Miwa.
“ Iya iya! Sebentar ! “
Hari ini mereka akan berkumpul untuk merencanakan kegiatan bulanan mereka, kegiatan ini rutin dilakuan untuk belajar berinteraksi langsung dengan keadaan alam negeri ini. Sebulan yang lalu KPA melakukan perjalanan ke perkampungan yang jauh dari daerah perkotaan dan hampir menjadi salah satu daerah yang belum tersentuh sambungan listrik, mayoritas warga perkampungan itu menggunakan patromak atau lilin sebagai penerangan, keadaan alamnya masih terbilang asri dan banyak sekali pepohonan yang rindang.
Tujuan perjalanan kali ini adalah daerah wisata yang katanya ada sebuah air terjun yang sangat indah, mereka tidak akan menggunakan tenda kali ini tetapi mereka akan menyewa penginapan dikarenakan keadaan cuaca yang kurang mendukung , tentu saja hal ini tidak menjadi penghalang bagi mereka karena itu mereka memerlukan perlengkapan khusus.
Suasana siang berganti sore, rapat pun selesai dan mereka kembali ke rumah masing-masing dan mempersiapkan perlengkapan apa saja yang harus mereka bawa, tidak lupa istirahat yang cukup sangat diperlukan untuk mempersiapkan fisik mereka.
Keesokan harinya,  mereka berkumpul di tempat yang sudah ditentukan. Hampir semua orang sudah berkumpul disana kecuali Sandi. Baru kali ini Sandi terlambat, biasanya ia adalah orang pertama yang  datang dan sekarang entah mengapa sudah tiga puluh menit Sandi tak kunjung datang. Satu jam suda berlalu tetapi Sandi tak kunjung datang juga. Ketika Kak Bagus hendak mengutus beberapa orang untuk mencarinya, dari kejauhan terlihat Sandi yang tengah berlari sambil melambaikan tangan kearah Kak Bagus dkk.
“ Kamu dari mana saja? “ Tanya Kak Bagus.
“ Maaf Kak, saya ketiduran “ Jelas Sandi.
“ Ketiduran? Ko bisa? Memangnya apa yang kamu lakukan semalam? “ Kak Bagus penasaran.
 “Aku tidak bisa tidur gara-gara batuk dan berkeringat, hanya itu kok. Kak Bagus ini terlalu khawatir. Aku tidak apa-apa ko, Kak. Ayo, sebaiknya kita cepat-cepat berangkat, semakin siang semakin panas nantinya “
Kak Bagus menengok ke arah Kak Herdi meminta pendapat sahabatnya itu, Kak Herdi menganggukkan kepalanya tanda menyetujui apa yang dikatakan Sandi. Dan mereka pun berangkat menuju tempat tujuan.
***
Sesampainya disana mereka menuju sebuah rumah tempat mereka akan bermalam. Rumah itu terlihat sederhana, tembok, pintu dan lantainya terbuat dari kayu yang disusun dengan rapi, atapnya seperti atap rumah-rumah pada umumnya, jendelanya dihiasi dengan tanaman rambat yang berbunga.
Kak Bagus memberi instruksi agar semua anggota membereskan barang mereka dan bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Setelah selesai, segeralah mereka mengikuti Kak Bagus yang sudah berjalan beberapa meter dari penginapan, mereka terlihat antusias ingin sekali melakukan ekspedisi ini.
“ uhuk! Uhuk! “
Terdengar suara batuk .
 “ Uhuk! Uhuk! UHUK! UHUK! …”
Suara batuk itu terus saja terdengar dan semakin lama semakin sering dan semakin keras. Sesekali sehabis batuk, terdengar suara napas yang terengah-engah, padahal tidak sulit untuk mencari oksigen dan tentunya dalam keadaan yang bersih ini tumbuh-tumbuhan menghasilkan oksigen dalam kondisi yang baik. Batuk terdengar lagi, kali ini semakin keras dari sebelumnya dan terdengar suara benturan yang cukup keras.
“ SANDI ! “ Teriak Kak Herdi.
Kak Herdi berlari menghampiri Sandi yang tergeletak dengan nafas terengah-engah. Semua orang menghentikan aktivitasnya dan mengalihkan pandangannya kearah Kak Herdi yang tergesa-gesa. Mereka terkejut melihat tubuh Sandi yang terbaring begitu saja, wajah Sandi begitu pucat. Sandi yang selalu ceria kini hanya bisa terbaring tanpa sedikit pun senyuman diwajahnya.
Sandi dibaringkan dikasur dan tidak lama kemudian perlahan-lahan mulai membuka matanya. Semua orang terdiam melihat keadaan Sandi, tak ada yang berani berkomentar. Begitu juga Sandi, ia tertegun tak sempat melanjutkan kata-katanya, ia melihat orang-orang disekitarnya menatapnya seolah-olah ia telah melakukan sesuatu. Kak Herdi menjelaskan apa yang terjadi kepada Sandi, namun tak satupun kata yang terucap dari mulut Sandi, ia tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
Sayangnya hal ini membuat kegiatan KPA ditunda untuk sementara agar tidak terjadi sesuatu yang lebih parah, Kak Bagus memutuskan agar tidak melakukan kegiatan yang jauh dari penginapan. Mungkin dalam keadaan cuaca yang seperti ini memang sebaiknya mereka tidak melakukan kegiatan outdoor .
Rasa kecewa ini dirasakan oleh Sandi yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan teman-temannya, ia menyesal jika saja hal ini tidak terjadi mungkin saja mereka bisa melanjutkan kegiatan mereka, mungkin saja mereka sedang berada dalam perjalanan menuju air terjun yang mereka cari, Sandi membayangkan betapa gembiranya mereka dapat melihat air terjun yang mereka cari-cari itu namun ia malah merusak harapan teman-temannya hari itu tanpa bisa berbuat apa-apa.
***

Senin, 13 Agustus 2012


“ THIS IS MY PRAYING ”
by SeRaviizZ-fantasy

                Namaku Miwa, aku anak pertama dari dua bersaudara, kami perempuan, adikku berama Michiyo, kami sering bertengkar tapi itulah caraku menyampaikan rasa sayangku padanya, dia memang agak manja dan sering membuatku kesal tapi dialah satu-satunya adik yang aku punya. Ayahku bernama Kuniumi adalah orang yang amat sangat lembut dan baik, ia selalu bersahabat terutama pada teman-temannya dan anak-anaknya, dia lucu dan mengasyikkan, dia adalah ayah terhebat yang pernah aku miliki. Dia jago memotret, aku sangat senang melihat hasil potretannya. dan ibuku bernama Misaki, beliau bekerja disebuah perusahaan kesehatan yang khusus meneliti berbagai jenis penyakit terutama yang disebabkan oleh virus dan bakteri, ibuku adalah orang yang sangat lembut dan tegas tapi itulah bagian yang aku suka, beliau pandai memasak dan aku sangat menyukai masakannya. Keluarga kami hidup dalam keadaan sederhana tidak terlalu mewah dan tidak terlalu miskin, sederhana saja. Kedua orangtuaku bekerja hampir setiap hari, jadi kami hanya bisa berkumpul pada sore hari, itu juga kalau mereka tidak sibuk, jika mereka sibuk mungkin seminggu atau bahkan sebulan lebih kami hampir tidak bertemu.
Sebelum Michiyo lahir dan aku masih di TK, ibuku selalu menitipkanku kepada nenekku ketika beliau hendak bekerja, ayahku pergi kerja pagi sekai karena ketika aku tahu ayahku pergi aku sering menangis tidak mau ditinggal. Dari mulai sekolah hingga sore hari aku selalu bermain dengan nenekku dan anak-anak disekitar rumah nenekku. Tapi sayangnya, mereka selalu menganggap remehku dan selalu memanfaatkanku untuk melakukan apapun yang mereka mau. Terkadang aku merasa sedih diperlakukan seperti itu tapi aku tidak punya pilihan lain. Saat Michiyo lahir, aku mulai kehilangan perhatian, aku pikir ini wajar-wajar saja, Michiyo masih kecil dan masih membutuhkan perhatian lebih dari kedua orangtuaku. Sedangkan aku harus mulai bisa merawat diriku sendiri, aku mulai beranjak dewasa.
“Mungkin sekarang Michiyo lebih diperhatikan, tapi ada saatnya kamu akan diperhatukan lebih dari Michiyo, bersabarlah Miwa” ujar ibuku sambil membelai kepalaku dengan lembut.
Aku memiliki satu teman yang seumuran denganku dia adalah sahabat terbaikku, namanya adalah Sachiyo atau akrab dipanggil dengan Sachi. Kami memiliki banyak kesamaan, asyiknya lagi kami memiliki hobi yang sama, walaupun Sachi lebih muda satu tahun dan sifatnya yang kekanak-kanakan kami bisa mengerti satu sama lain, kalau ada waktu senggang, seringnnya sih hari libur, aku dan Sachi selalu bermain bersama hingga lupa waktu dan kami sering sekali kena marah, tapi bagiku itu sangat mengasyikan, tidak ada yang lebih menyenangkan selain bermain dan bercandaria dengan Sachiyo. Tapi karena aku selalu dititipkan pada nenekku, kami jadi jarang bertemu.
Aku sangat senang bermain dengan Sachi, Sachi adalah sahabat yang selalu menemaniku dan menghilangkan rasa kesepianku, hanya ia yang bisa. Tapi sayangnya saat kami masih duduk dibangku SD Sachi dan keluarganya harus pindah ketempat yang jauh, karena pekerjaan ayahnya, mereka pindah ke salah satu Negara di Eropa. Aku sedih, sahabatku satu-satunya harus menjauh dariku selama 5 tahun. Tapi walaupun begitu kami membuat janji akan meraih mimpi bersama-sama dan selalu bersama. Saat Sachi pergi kini aku benar-benar kesepian aku berharap dapat bertemu Sachi secepat mungkin. Aku ingin mendapat banyak teman agar aku tidak kesepian, aku tidak ingin kedua orangtuaku khawatir karena melihatku kesepian. Aku harus mencari banyak teman. Ambisi inilah yang terkadang malah menjerumuskanku dan orang lain, keinginanku yang ingin menghapuskan rasa kesepian ini terkadang membuat teman-temanku semakin menjauh. Kenapa?
Jawabannya sangat jelas, seringkali aku mengada-ngada sesuatu yang bukan atau bahkan tidak aku miliki, aku sering membual tentang diriku dan keluargaku, aku sering bercerita tentang suatu hal yang bukan diriku. Bagaikan anak kecil yang ingin diperhatikan oleh teman-temannya, dengan kata lain aku sering BERBOHONG.
Aku hanya ingin mendapat teman, walaupun aku menyadari bahwa apa yang aku lakukan itu salah besar, berbohong memang terasa manis diawal tapi suatu saat kebohongan itu akan terbongkar dan akan menimbulkan rasa pahit yang luar biasa. Hal ini membuat hari-hariku disekolah terasa tidak nyaman, orang-orang seringkali menatapku dengan tatapan yang penuh dengan rasa kebencian terhadap diriku dan bertanya tentang kebohonganku dan akupun seringkali kebingungan menanggapi pertanyaan mereka. Sebenranya aku sangat takut kehilangan teman-temanu tapi aku sendirilah yang membuat mereka menghindar dariku, harusnya aku segera sadar akan hal itu, tapi nyatanya sudah terlambat, hanya beberapa orang yang tahan dengan kebohonganku, entah sampai kapan mereka bertahan.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Kini usiaku sudah menginjak 16 tahun. Sekarang aku kelas 3 SMA dan sebentar lagi akan melanjutkan ke perguruan tinggi, entah mengapa terkadang aku merasa sangat sedih. Harusnya tahun ini aku benar-benar konsentrasi untuk menghadapi ujian. Tapi, tahun ini merupakan cobaan terberatku, nilaiku mulai menurut saat aku kelas 2 SMA semester akhir, mungkin gara-gara teman-teman kelasku saat itu sangat tidak menyenangkan mereka selalu memanfaatkanku untuk mengerjakan tugas mereka apalagi tugas kelompok, pasti hanya aku dikelompok tersebut yang mengerjakannya. Ibuku mulai sibuk, beliau sampai mendapat panggilan untuk kerja diluar negeri, beliau sering sekali pualng larut dan capek sehingga terkadang emosinya meluap. Sekolah Michiyo seringkali meminta sumbangan atau anggaran dengan jumlah uang yang tidak sedikit. Ditambah lagi yang paling menyedihkan adalah ayahku seringkali keluar masuk pekerjaan dan kini ia terdaftar sebagai pengangguran.
“ Kita harus bisa beradaptasi dengan pekerjaan, jangan merasa tidak enak dengan pekerjaan itu lalu kita keluar begitu saja” itulah nasehat ayahku yang sering dilontarkan padaku
Ya, aku adalah orang yang sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, aku paling tidak bisa terbuka dengan orang lain, walaupun bercerita kepada orang lain, tidak sepenuhnya kuceritakn semua kisah yang ingin kusampaikan pada seseorang itu kuungkapkan semuanya, pasti ada beberapa bagian yang aku sembunyikan. Inilah yang membuat diriku capek melahap emosi sendiri, jika ini terjadi aku sering menuangkan emosiku lewat sebuah gambar atau cerita atau puisi. Dan aku berencana untuk melanjutkan studiku ke Fakultas Seni. Tapi….Terkadang aku merasa sedih jika memikirkan semua ini dan aku hampir saja berfikir untuk berhenti sekolah dan bekerja. Tapi ibuku sering memintaku belajar dengan giat agar aku bisa masuk perguruan tinggi negeri yang biayanya lebih murah daripada perguruan tinggi swasta.
Aku selalu berusaha disekolah, aku selalu bekerja keras dan melakukan apapun yang aku bisa. Tapi terkadang suasana dirumah kurang mendukung, seringkali aku kena marah orangtuaku gara-gara hal-hal sepele. Aku capek, mereka tidak mengerti bahwa sebenarnya aku ingin santai, belajar dirumah tidak masalah bagiku. Tapi karena orangtuaku ingin aku pergi sekolah dan mendapat tambahan ilmu maka keinginan mereka aku penuhi, akupun sekolah dengan senang hati. Aku ikut senang ketika melihat mereka bahagia. Tapi terkadang aku merasa mereka kurang mendukung apa yang aku lakukan, aku selalu menuruti perintah mereka, selalu. Tapi kenapa mereka selalu memaksaku untuk melakukan sesuatu yang mereka inginkan, aku mengerti mereka pasti sangat ingin aku sukses dan bahagia tapi bukan begini caranya! Aku ingin memilih jalanku sendiri aku tidak ingin selalu bergantung kepada keputusan mereka. Ideku sering bertolak belakang dengan ide mereka, tapi demi keinginanku membahagiakan mereka aku sering menahan kemauanku jauh dari lubuk hatiku, dan benar-benar terbukti, minatku pada Seni mulai berkurang, aku malah mengalikan minatku pada apa yang telah menjadi pilihan orantuaku. Lama-lama aku mulai mengalami tekanan batin, kondisi tubuhku mulai menurun sehingga membuatku menjadi sering sakit. Emosiku tidak terkontol, aku mudah tersentuh. Aku sering sekali berusaha mengontrol emosiku yang meluap-luap, tapi sayangnya aku kesulitan untuk mengatasi masalah ini, kadang-kadang luapan emosi itu disertai dengan kadaan pikiranku yang kacau atau keadaan tubuhku yang kurang fit dan tentu saja batinku ini. Aku sering menangis mengenai hal-hal sepele, sebenarnya aku tidak mau menangis tetapi batinku terus menekan untuk membuatku mengeluarkan airmata. Hal ini sering membuat kedua orangtuaku terutama ibuku menjadi kesal dan kebingungan.
“ Kamu kenapa sih?! Tiba-tiba menangis, apakah ibu harus membawamu ke Psikiater dan memeriksa keadaan jiwamu?”
Atau
“ Kamu tuh kaya anak yang tidak normal saja, orang-orang bisa saja menyangka kamu itu autis, apalagi mereka yang tidak mengenal kamu yang sebenaarnya!”
Mendengar kata-kata itu, solah-olah sebuah kata muncul dibenakku “Akankah ada orang yang akan merasa kehilangan dan menangis ketika aku telah meninggal nanti?”
Sering sekali aku mendengar kata-kata menyakitkan itu, bahkan terlalu menyakitkan untuk diucapkan seorang ibu kepada anaknya sendiri. Ibuku tidak mengerti, ia menolak untuk mengerti. Aku hanyalah gadis kesepian yang ingin diperhatikan kedua orangtuanya, semenjak aku kecil aku hanya bagaikan anak titipan yang tidak dibutuhkan yang kuinginkan hanya satu, “ Perhatian”. Mereka selalu bekerja dan memberikan benda apapun yang aku mau. Tapi bukan harta atau benda yang aku mau! Aku hanya ingin kasih sayang mereka, sepenting itukah pekerjaan mereka? Sampai-sampai ketika kehilangan pekerjaan seolah-olah dunia sudah kiamat.
Apakah mereka berpikir jika mereka mengabulkan semua keinginanku maka aku akan merasa senang, bahagia bahkan tidak kesepian?
Jika aku harus menjawab pertanyaan itu maka aku akan menjawab TIDAK. Tidak satupun anak dimuka bumi ini yang tidak menginginkan kehadiran orangtua mereka disampingnya, kuhargai pengorbanan mereka, kuhargai usaha mereka. Jadi aku mohon, HARGAILAH AKU. Aku ini anakmu.
Ya Tuhan, apabila Engkau mendengar do’aku, aku ingin kedua orangtuaku sehat lahir batin, aku ingin kedua orangtuaku selalu bersama dan berbahagia, aku ingin mereka mengerti jalan yang aku pilih sendiri, aku tidak ingin menjadi beban mereka dan aku tidak menginginkan mereka menjadi beban bagiku, tumbuhkanlah rasa saling mengerti diantara kami. Michiyo, aku ingin kamu menjadi lebih bahagia dari kakakmu ini, menjadi anak yang berbakti kepada orangtua. Ayah, aku ingin ayah bisa bekerja lagi, aku sangant senang mendengar cerita ayah tentang pekerjaan ayah, ayah terlihat begitu senang bercerita tentang pengalaman ayah saat bekerja. Ibu, aku ingin ibu selalu merawat dan menjaga kami, karena hanya engkaulah obat yang ada dikeluarga kami, obat yang dapat menyembuhkan apapun. Dan aku, Miwa, aku hanya menginginkan kehendak-Mu yang terbaik bagi kami, jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa bersandar hanya kepada-Mu. Kumohon dengarkanlah do’aku.

" Inilah do’aku…"

My Music Playlist


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com