Senin, 13 Agustus 2012


“ THIS IS MY PRAYING ”
by SeRaviizZ-fantasy

                Namaku Miwa, aku anak pertama dari dua bersaudara, kami perempuan, adikku berama Michiyo, kami sering bertengkar tapi itulah caraku menyampaikan rasa sayangku padanya, dia memang agak manja dan sering membuatku kesal tapi dialah satu-satunya adik yang aku punya. Ayahku bernama Kuniumi adalah orang yang amat sangat lembut dan baik, ia selalu bersahabat terutama pada teman-temannya dan anak-anaknya, dia lucu dan mengasyikkan, dia adalah ayah terhebat yang pernah aku miliki. Dia jago memotret, aku sangat senang melihat hasil potretannya. dan ibuku bernama Misaki, beliau bekerja disebuah perusahaan kesehatan yang khusus meneliti berbagai jenis penyakit terutama yang disebabkan oleh virus dan bakteri, ibuku adalah orang yang sangat lembut dan tegas tapi itulah bagian yang aku suka, beliau pandai memasak dan aku sangat menyukai masakannya. Keluarga kami hidup dalam keadaan sederhana tidak terlalu mewah dan tidak terlalu miskin, sederhana saja. Kedua orangtuaku bekerja hampir setiap hari, jadi kami hanya bisa berkumpul pada sore hari, itu juga kalau mereka tidak sibuk, jika mereka sibuk mungkin seminggu atau bahkan sebulan lebih kami hampir tidak bertemu.
Sebelum Michiyo lahir dan aku masih di TK, ibuku selalu menitipkanku kepada nenekku ketika beliau hendak bekerja, ayahku pergi kerja pagi sekai karena ketika aku tahu ayahku pergi aku sering menangis tidak mau ditinggal. Dari mulai sekolah hingga sore hari aku selalu bermain dengan nenekku dan anak-anak disekitar rumah nenekku. Tapi sayangnya, mereka selalu menganggap remehku dan selalu memanfaatkanku untuk melakukan apapun yang mereka mau. Terkadang aku merasa sedih diperlakukan seperti itu tapi aku tidak punya pilihan lain. Saat Michiyo lahir, aku mulai kehilangan perhatian, aku pikir ini wajar-wajar saja, Michiyo masih kecil dan masih membutuhkan perhatian lebih dari kedua orangtuaku. Sedangkan aku harus mulai bisa merawat diriku sendiri, aku mulai beranjak dewasa.
“Mungkin sekarang Michiyo lebih diperhatikan, tapi ada saatnya kamu akan diperhatukan lebih dari Michiyo, bersabarlah Miwa” ujar ibuku sambil membelai kepalaku dengan lembut.
Aku memiliki satu teman yang seumuran denganku dia adalah sahabat terbaikku, namanya adalah Sachiyo atau akrab dipanggil dengan Sachi. Kami memiliki banyak kesamaan, asyiknya lagi kami memiliki hobi yang sama, walaupun Sachi lebih muda satu tahun dan sifatnya yang kekanak-kanakan kami bisa mengerti satu sama lain, kalau ada waktu senggang, seringnnya sih hari libur, aku dan Sachi selalu bermain bersama hingga lupa waktu dan kami sering sekali kena marah, tapi bagiku itu sangat mengasyikan, tidak ada yang lebih menyenangkan selain bermain dan bercandaria dengan Sachiyo. Tapi karena aku selalu dititipkan pada nenekku, kami jadi jarang bertemu.
Aku sangat senang bermain dengan Sachi, Sachi adalah sahabat yang selalu menemaniku dan menghilangkan rasa kesepianku, hanya ia yang bisa. Tapi sayangnya saat kami masih duduk dibangku SD Sachi dan keluarganya harus pindah ketempat yang jauh, karena pekerjaan ayahnya, mereka pindah ke salah satu Negara di Eropa. Aku sedih, sahabatku satu-satunya harus menjauh dariku selama 5 tahun. Tapi walaupun begitu kami membuat janji akan meraih mimpi bersama-sama dan selalu bersama. Saat Sachi pergi kini aku benar-benar kesepian aku berharap dapat bertemu Sachi secepat mungkin. Aku ingin mendapat banyak teman agar aku tidak kesepian, aku tidak ingin kedua orangtuaku khawatir karena melihatku kesepian. Aku harus mencari banyak teman. Ambisi inilah yang terkadang malah menjerumuskanku dan orang lain, keinginanku yang ingin menghapuskan rasa kesepian ini terkadang membuat teman-temanku semakin menjauh. Kenapa?
Jawabannya sangat jelas, seringkali aku mengada-ngada sesuatu yang bukan atau bahkan tidak aku miliki, aku sering membual tentang diriku dan keluargaku, aku sering bercerita tentang suatu hal yang bukan diriku. Bagaikan anak kecil yang ingin diperhatikan oleh teman-temannya, dengan kata lain aku sering BERBOHONG.
Aku hanya ingin mendapat teman, walaupun aku menyadari bahwa apa yang aku lakukan itu salah besar, berbohong memang terasa manis diawal tapi suatu saat kebohongan itu akan terbongkar dan akan menimbulkan rasa pahit yang luar biasa. Hal ini membuat hari-hariku disekolah terasa tidak nyaman, orang-orang seringkali menatapku dengan tatapan yang penuh dengan rasa kebencian terhadap diriku dan bertanya tentang kebohonganku dan akupun seringkali kebingungan menanggapi pertanyaan mereka. Sebenranya aku sangat takut kehilangan teman-temanu tapi aku sendirilah yang membuat mereka menghindar dariku, harusnya aku segera sadar akan hal itu, tapi nyatanya sudah terlambat, hanya beberapa orang yang tahan dengan kebohonganku, entah sampai kapan mereka bertahan.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Kini usiaku sudah menginjak 16 tahun. Sekarang aku kelas 3 SMA dan sebentar lagi akan melanjutkan ke perguruan tinggi, entah mengapa terkadang aku merasa sangat sedih. Harusnya tahun ini aku benar-benar konsentrasi untuk menghadapi ujian. Tapi, tahun ini merupakan cobaan terberatku, nilaiku mulai menurut saat aku kelas 2 SMA semester akhir, mungkin gara-gara teman-teman kelasku saat itu sangat tidak menyenangkan mereka selalu memanfaatkanku untuk mengerjakan tugas mereka apalagi tugas kelompok, pasti hanya aku dikelompok tersebut yang mengerjakannya. Ibuku mulai sibuk, beliau sampai mendapat panggilan untuk kerja diluar negeri, beliau sering sekali pualng larut dan capek sehingga terkadang emosinya meluap. Sekolah Michiyo seringkali meminta sumbangan atau anggaran dengan jumlah uang yang tidak sedikit. Ditambah lagi yang paling menyedihkan adalah ayahku seringkali keluar masuk pekerjaan dan kini ia terdaftar sebagai pengangguran.
“ Kita harus bisa beradaptasi dengan pekerjaan, jangan merasa tidak enak dengan pekerjaan itu lalu kita keluar begitu saja” itulah nasehat ayahku yang sering dilontarkan padaku
Ya, aku adalah orang yang sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, aku paling tidak bisa terbuka dengan orang lain, walaupun bercerita kepada orang lain, tidak sepenuhnya kuceritakn semua kisah yang ingin kusampaikan pada seseorang itu kuungkapkan semuanya, pasti ada beberapa bagian yang aku sembunyikan. Inilah yang membuat diriku capek melahap emosi sendiri, jika ini terjadi aku sering menuangkan emosiku lewat sebuah gambar atau cerita atau puisi. Dan aku berencana untuk melanjutkan studiku ke Fakultas Seni. Tapi….Terkadang aku merasa sedih jika memikirkan semua ini dan aku hampir saja berfikir untuk berhenti sekolah dan bekerja. Tapi ibuku sering memintaku belajar dengan giat agar aku bisa masuk perguruan tinggi negeri yang biayanya lebih murah daripada perguruan tinggi swasta.
Aku selalu berusaha disekolah, aku selalu bekerja keras dan melakukan apapun yang aku bisa. Tapi terkadang suasana dirumah kurang mendukung, seringkali aku kena marah orangtuaku gara-gara hal-hal sepele. Aku capek, mereka tidak mengerti bahwa sebenarnya aku ingin santai, belajar dirumah tidak masalah bagiku. Tapi karena orangtuaku ingin aku pergi sekolah dan mendapat tambahan ilmu maka keinginan mereka aku penuhi, akupun sekolah dengan senang hati. Aku ikut senang ketika melihat mereka bahagia. Tapi terkadang aku merasa mereka kurang mendukung apa yang aku lakukan, aku selalu menuruti perintah mereka, selalu. Tapi kenapa mereka selalu memaksaku untuk melakukan sesuatu yang mereka inginkan, aku mengerti mereka pasti sangat ingin aku sukses dan bahagia tapi bukan begini caranya! Aku ingin memilih jalanku sendiri aku tidak ingin selalu bergantung kepada keputusan mereka. Ideku sering bertolak belakang dengan ide mereka, tapi demi keinginanku membahagiakan mereka aku sering menahan kemauanku jauh dari lubuk hatiku, dan benar-benar terbukti, minatku pada Seni mulai berkurang, aku malah mengalikan minatku pada apa yang telah menjadi pilihan orantuaku. Lama-lama aku mulai mengalami tekanan batin, kondisi tubuhku mulai menurun sehingga membuatku menjadi sering sakit. Emosiku tidak terkontol, aku mudah tersentuh. Aku sering sekali berusaha mengontrol emosiku yang meluap-luap, tapi sayangnya aku kesulitan untuk mengatasi masalah ini, kadang-kadang luapan emosi itu disertai dengan kadaan pikiranku yang kacau atau keadaan tubuhku yang kurang fit dan tentu saja batinku ini. Aku sering menangis mengenai hal-hal sepele, sebenarnya aku tidak mau menangis tetapi batinku terus menekan untuk membuatku mengeluarkan airmata. Hal ini sering membuat kedua orangtuaku terutama ibuku menjadi kesal dan kebingungan.
“ Kamu kenapa sih?! Tiba-tiba menangis, apakah ibu harus membawamu ke Psikiater dan memeriksa keadaan jiwamu?”
Atau
“ Kamu tuh kaya anak yang tidak normal saja, orang-orang bisa saja menyangka kamu itu autis, apalagi mereka yang tidak mengenal kamu yang sebenaarnya!”
Mendengar kata-kata itu, solah-olah sebuah kata muncul dibenakku “Akankah ada orang yang akan merasa kehilangan dan menangis ketika aku telah meninggal nanti?”
Sering sekali aku mendengar kata-kata menyakitkan itu, bahkan terlalu menyakitkan untuk diucapkan seorang ibu kepada anaknya sendiri. Ibuku tidak mengerti, ia menolak untuk mengerti. Aku hanyalah gadis kesepian yang ingin diperhatikan kedua orangtuanya, semenjak aku kecil aku hanya bagaikan anak titipan yang tidak dibutuhkan yang kuinginkan hanya satu, “ Perhatian”. Mereka selalu bekerja dan memberikan benda apapun yang aku mau. Tapi bukan harta atau benda yang aku mau! Aku hanya ingin kasih sayang mereka, sepenting itukah pekerjaan mereka? Sampai-sampai ketika kehilangan pekerjaan seolah-olah dunia sudah kiamat.
Apakah mereka berpikir jika mereka mengabulkan semua keinginanku maka aku akan merasa senang, bahagia bahkan tidak kesepian?
Jika aku harus menjawab pertanyaan itu maka aku akan menjawab TIDAK. Tidak satupun anak dimuka bumi ini yang tidak menginginkan kehadiran orangtua mereka disampingnya, kuhargai pengorbanan mereka, kuhargai usaha mereka. Jadi aku mohon, HARGAILAH AKU. Aku ini anakmu.
Ya Tuhan, apabila Engkau mendengar do’aku, aku ingin kedua orangtuaku sehat lahir batin, aku ingin kedua orangtuaku selalu bersama dan berbahagia, aku ingin mereka mengerti jalan yang aku pilih sendiri, aku tidak ingin menjadi beban mereka dan aku tidak menginginkan mereka menjadi beban bagiku, tumbuhkanlah rasa saling mengerti diantara kami. Michiyo, aku ingin kamu menjadi lebih bahagia dari kakakmu ini, menjadi anak yang berbakti kepada orangtua. Ayah, aku ingin ayah bisa bekerja lagi, aku sangant senang mendengar cerita ayah tentang pekerjaan ayah, ayah terlihat begitu senang bercerita tentang pengalaman ayah saat bekerja. Ibu, aku ingin ibu selalu merawat dan menjaga kami, karena hanya engkaulah obat yang ada dikeluarga kami, obat yang dapat menyembuhkan apapun. Dan aku, Miwa, aku hanya menginginkan kehendak-Mu yang terbaik bagi kami, jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa bersandar hanya kepada-Mu. Kumohon dengarkanlah do’aku.

" Inilah do’aku…"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Music Playlist


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com