Perjalanan
Terakhir
Oleh Dinda Septiany
Cerita ini terinspirasi dari perjuangan hidup seorang samurai muda
bernama Okita Soujiro Fujiwara no Harumasa atau dikenal dengan nama Okita
Souji. Beliau adalah kapten pasukan divisi satu Shinsengumi, sebuah korps
kepolisian yang dibentuk untuk melindungi ibu kota. Dalam usianya yang
terbilang muda, beliau menguasai berbagai teknik pedang dengan cepat. Sayangnya,
pada usianya yang ke 25 tahun, beliau harus meninggalkan dunia karena penyakit
yang dideritanya.
“ Sandi, nanti ajarin kita Matematika ya? “
“ Siap deh!”
Itulah Sandi, ia cukup populer disekolahnya.
Dia anak yang baik, sopan, dan ramah kepada siapa saja, tidak sedikit siswi
yang mengaguminya dan tidak sedikit pula siswa yang menjadi temannya atau mungkin
ada juga yang mengaggap Sandi sebagai saingan mereka. Baik, sopan, dan pintar.
Siapa yang tidak iri pada Sandi, semua pelajaran ia kuasai dengan baik. Bisa
dibilang Sandi itu hampir sempurna, andai saja ia….
“ Sandi cepetan dong! Nanti kita
dimarahin senior! “ Teriak Miwa.
“ Iya iya! Sebentar ! “
Hari ini mereka akan berkumpul untuk
merencanakan kegiatan bulanan mereka, kegiatan ini rutin dilakuan untuk belajar
berinteraksi langsung dengan keadaan alam negeri ini. Sebulan yang lalu KPA
melakukan perjalanan ke perkampungan yang jauh dari daerah perkotaan dan hampir
menjadi salah satu daerah yang belum tersentuh sambungan listrik, mayoritas
warga perkampungan itu menggunakan patromak atau lilin sebagai penerangan, keadaan
alamnya masih terbilang asri dan banyak sekali pepohonan yang rindang.
Tujuan perjalanan kali ini adalah
daerah wisata yang katanya ada sebuah air terjun yang sangat indah, mereka
tidak akan menggunakan tenda kali ini tetapi mereka akan menyewa penginapan
dikarenakan keadaan cuaca yang kurang mendukung , tentu saja hal ini tidak
menjadi penghalang bagi mereka karena itu mereka memerlukan perlengkapan khusus.
Suasana siang berganti sore, rapat pun
selesai dan mereka kembali ke rumah masing-masing dan mempersiapkan
perlengkapan apa saja yang harus mereka bawa, tidak lupa istirahat yang cukup sangat
diperlukan untuk mempersiapkan fisik mereka.
Keesokan harinya, mereka berkumpul di tempat yang sudah
ditentukan. Hampir semua orang sudah berkumpul disana kecuali Sandi. Baru kali
ini Sandi terlambat, biasanya ia adalah orang pertama yang datang dan sekarang entah mengapa sudah tiga
puluh menit Sandi tak kunjung datang. Satu jam suda berlalu tetapi Sandi tak
kunjung datang juga. Ketika Kak Bagus hendak mengutus beberapa orang untuk
mencarinya, dari kejauhan terlihat Sandi yang tengah berlari sambil melambaikan
tangan kearah Kak Bagus dkk.
“ Kamu dari mana saja? “ Tanya Kak
Bagus.
“ Maaf Kak, saya ketiduran “ Jelas
Sandi.
“ Ketiduran? Ko bisa? Memangnya apa
yang kamu lakukan semalam? “ Kak Bagus penasaran.
“Aku tidak bisa tidur gara-gara batuk dan
berkeringat, hanya itu kok. Kak Bagus ini terlalu khawatir. Aku tidak apa-apa
ko, Kak. Ayo, sebaiknya kita cepat-cepat berangkat, semakin siang semakin panas
nantinya “
Kak Bagus menengok ke arah Kak Herdi meminta
pendapat sahabatnya itu, Kak Herdi menganggukkan kepalanya tanda menyetujui apa
yang dikatakan Sandi. Dan mereka pun berangkat menuju tempat tujuan.
***
Sesampainya disana mereka menuju
sebuah rumah tempat mereka akan bermalam. Rumah itu terlihat sederhana, tembok,
pintu dan lantainya terbuat dari kayu yang disusun dengan rapi, atapnya seperti
atap rumah-rumah pada umumnya, jendelanya dihiasi dengan tanaman rambat yang
berbunga.
Kak Bagus memberi instruksi agar semua
anggota membereskan barang mereka dan bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Setelah
selesai, segeralah mereka mengikuti Kak Bagus yang sudah berjalan beberapa
meter dari penginapan, mereka terlihat antusias ingin sekali melakukan
ekspedisi ini.
“ uhuk! Uhuk! “
Terdengar suara batuk .
“ Uhuk! Uhuk! UHUK! UHUK! …”
Suara batuk itu terus saja terdengar
dan semakin lama semakin sering dan semakin keras. Sesekali sehabis batuk,
terdengar suara napas yang terengah-engah, padahal tidak sulit untuk mencari
oksigen dan tentunya dalam keadaan yang bersih ini tumbuh-tumbuhan menghasilkan
oksigen dalam kondisi yang baik. Batuk terdengar lagi, kali ini semakin keras
dari sebelumnya dan terdengar suara benturan yang cukup keras.
“ SANDI ! “ Teriak Kak Herdi.
Kak Herdi berlari menghampiri Sandi
yang tergeletak dengan nafas terengah-engah. Semua orang menghentikan
aktivitasnya dan mengalihkan pandangannya kearah Kak Herdi yang tergesa-gesa. Mereka
terkejut melihat tubuh Sandi yang terbaring begitu saja, wajah Sandi begitu pucat.
Sandi yang selalu ceria kini hanya bisa terbaring tanpa sedikit pun senyuman
diwajahnya.
Sandi dibaringkan dikasur dan tidak
lama kemudian perlahan-lahan mulai membuka matanya. Semua orang terdiam melihat
keadaan Sandi, tak ada yang berani berkomentar. Begitu juga Sandi, ia tertegun
tak sempat melanjutkan kata-katanya, ia melihat orang-orang disekitarnya
menatapnya seolah-olah ia telah melakukan sesuatu. Kak Herdi menjelaskan apa
yang terjadi kepada Sandi, namun tak satupun kata yang terucap dari mulut Sandi,
ia tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
Sayangnya hal ini membuat kegiatan KPA
ditunda untuk sementara agar tidak terjadi sesuatu yang lebih parah, Kak Bagus
memutuskan agar tidak melakukan kegiatan yang jauh dari penginapan. Mungkin
dalam keadaan cuaca yang seperti ini memang sebaiknya mereka tidak melakukan
kegiatan outdoor .
Rasa kecewa ini dirasakan oleh Sandi
yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan teman-temannya, ia menyesal jika saja
hal ini tidak terjadi mungkin saja mereka bisa melanjutkan kegiatan mereka,
mungkin saja mereka sedang berada dalam perjalanan menuju air terjun yang
mereka cari, Sandi membayangkan betapa gembiranya mereka dapat melihat air
terjun yang mereka cari-cari itu namun ia malah merusak harapan teman-temannya
hari itu tanpa bisa berbuat apa-apa.
***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar