Kamis, 13 September 2012

Cerpen Perjalanan Terakhir Part 1



Perjalanan Terakhir
Oleh Dinda Septiany
Cerita ini terinspirasi dari perjuangan hidup seorang samurai muda bernama Okita Soujiro Fujiwara no Harumasa atau dikenal dengan nama Okita Souji. Beliau adalah kapten pasukan divisi satu Shinsengumi, sebuah korps kepolisian yang dibentuk untuk melindungi ibu kota. Dalam usianya yang terbilang muda, beliau menguasai berbagai teknik pedang dengan cepat. Sayangnya, pada usianya yang ke 25 tahun, beliau harus meninggalkan dunia karena penyakit yang dideritanya.
 “ Sandi, nanti ajarin kita Matematika ya? “
“ Siap deh!”
Itulah Sandi, ia cukup populer disekolahnya. Dia anak yang baik, sopan, dan ramah kepada siapa saja, tidak sedikit siswi yang mengaguminya dan tidak sedikit pula siswa yang menjadi temannya atau mungkin ada juga yang mengaggap Sandi sebagai saingan mereka. Baik, sopan, dan pintar. Siapa yang tidak iri pada Sandi, semua pelajaran ia kuasai dengan baik. Bisa dibilang Sandi itu hampir sempurna, andai saja ia….
“ Sandi cepetan dong! Nanti kita dimarahin senior! “ Teriak Miwa.
“ Iya iya! Sebentar ! “
Hari ini mereka akan berkumpul untuk merencanakan kegiatan bulanan mereka, kegiatan ini rutin dilakuan untuk belajar berinteraksi langsung dengan keadaan alam negeri ini. Sebulan yang lalu KPA melakukan perjalanan ke perkampungan yang jauh dari daerah perkotaan dan hampir menjadi salah satu daerah yang belum tersentuh sambungan listrik, mayoritas warga perkampungan itu menggunakan patromak atau lilin sebagai penerangan, keadaan alamnya masih terbilang asri dan banyak sekali pepohonan yang rindang.
Tujuan perjalanan kali ini adalah daerah wisata yang katanya ada sebuah air terjun yang sangat indah, mereka tidak akan menggunakan tenda kali ini tetapi mereka akan menyewa penginapan dikarenakan keadaan cuaca yang kurang mendukung , tentu saja hal ini tidak menjadi penghalang bagi mereka karena itu mereka memerlukan perlengkapan khusus.
Suasana siang berganti sore, rapat pun selesai dan mereka kembali ke rumah masing-masing dan mempersiapkan perlengkapan apa saja yang harus mereka bawa, tidak lupa istirahat yang cukup sangat diperlukan untuk mempersiapkan fisik mereka.
Keesokan harinya,  mereka berkumpul di tempat yang sudah ditentukan. Hampir semua orang sudah berkumpul disana kecuali Sandi. Baru kali ini Sandi terlambat, biasanya ia adalah orang pertama yang  datang dan sekarang entah mengapa sudah tiga puluh menit Sandi tak kunjung datang. Satu jam suda berlalu tetapi Sandi tak kunjung datang juga. Ketika Kak Bagus hendak mengutus beberapa orang untuk mencarinya, dari kejauhan terlihat Sandi yang tengah berlari sambil melambaikan tangan kearah Kak Bagus dkk.
“ Kamu dari mana saja? “ Tanya Kak Bagus.
“ Maaf Kak, saya ketiduran “ Jelas Sandi.
“ Ketiduran? Ko bisa? Memangnya apa yang kamu lakukan semalam? “ Kak Bagus penasaran.
 “Aku tidak bisa tidur gara-gara batuk dan berkeringat, hanya itu kok. Kak Bagus ini terlalu khawatir. Aku tidak apa-apa ko, Kak. Ayo, sebaiknya kita cepat-cepat berangkat, semakin siang semakin panas nantinya “
Kak Bagus menengok ke arah Kak Herdi meminta pendapat sahabatnya itu, Kak Herdi menganggukkan kepalanya tanda menyetujui apa yang dikatakan Sandi. Dan mereka pun berangkat menuju tempat tujuan.
***
Sesampainya disana mereka menuju sebuah rumah tempat mereka akan bermalam. Rumah itu terlihat sederhana, tembok, pintu dan lantainya terbuat dari kayu yang disusun dengan rapi, atapnya seperti atap rumah-rumah pada umumnya, jendelanya dihiasi dengan tanaman rambat yang berbunga.
Kak Bagus memberi instruksi agar semua anggota membereskan barang mereka dan bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Setelah selesai, segeralah mereka mengikuti Kak Bagus yang sudah berjalan beberapa meter dari penginapan, mereka terlihat antusias ingin sekali melakukan ekspedisi ini.
“ uhuk! Uhuk! “
Terdengar suara batuk .
 “ Uhuk! Uhuk! UHUK! UHUK! …”
Suara batuk itu terus saja terdengar dan semakin lama semakin sering dan semakin keras. Sesekali sehabis batuk, terdengar suara napas yang terengah-engah, padahal tidak sulit untuk mencari oksigen dan tentunya dalam keadaan yang bersih ini tumbuh-tumbuhan menghasilkan oksigen dalam kondisi yang baik. Batuk terdengar lagi, kali ini semakin keras dari sebelumnya dan terdengar suara benturan yang cukup keras.
“ SANDI ! “ Teriak Kak Herdi.
Kak Herdi berlari menghampiri Sandi yang tergeletak dengan nafas terengah-engah. Semua orang menghentikan aktivitasnya dan mengalihkan pandangannya kearah Kak Herdi yang tergesa-gesa. Mereka terkejut melihat tubuh Sandi yang terbaring begitu saja, wajah Sandi begitu pucat. Sandi yang selalu ceria kini hanya bisa terbaring tanpa sedikit pun senyuman diwajahnya.
Sandi dibaringkan dikasur dan tidak lama kemudian perlahan-lahan mulai membuka matanya. Semua orang terdiam melihat keadaan Sandi, tak ada yang berani berkomentar. Begitu juga Sandi, ia tertegun tak sempat melanjutkan kata-katanya, ia melihat orang-orang disekitarnya menatapnya seolah-olah ia telah melakukan sesuatu. Kak Herdi menjelaskan apa yang terjadi kepada Sandi, namun tak satupun kata yang terucap dari mulut Sandi, ia tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
Sayangnya hal ini membuat kegiatan KPA ditunda untuk sementara agar tidak terjadi sesuatu yang lebih parah, Kak Bagus memutuskan agar tidak melakukan kegiatan yang jauh dari penginapan. Mungkin dalam keadaan cuaca yang seperti ini memang sebaiknya mereka tidak melakukan kegiatan outdoor .
Rasa kecewa ini dirasakan oleh Sandi yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan teman-temannya, ia menyesal jika saja hal ini tidak terjadi mungkin saja mereka bisa melanjutkan kegiatan mereka, mungkin saja mereka sedang berada dalam perjalanan menuju air terjun yang mereka cari, Sandi membayangkan betapa gembiranya mereka dapat melihat air terjun yang mereka cari-cari itu namun ia malah merusak harapan teman-temannya hari itu tanpa bisa berbuat apa-apa.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Music Playlist


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com