Tiba-tiba menjadi semakin cerah,
seketika siluet sinar matahari menembus awan membuat semuanya tampak lebih
jelas, pelangi yang tadinya samar-samar mulai terlihat berkat paduan percikan
air dan pancaran matahari yang semakin cerah. Tanpa pikir panjang seluruh
anggota KPA turun ke aliran sungai bahkan ada pula yang bermain dekat air
terjun, menikmati suasana cerah saat itu. Mereka berterima kasih kepada Sandi
telah mengajak mereka melihat keindahan pemandangan ini.
Kak Bagus berlari menghampiri mereka
semua sambil membawa kamera untuk berfoto didekat air terjun, latarnya sangat
indah dan semuanya terlihat senang, keluhan dan rasa capek mereka diobati
dengan keindahan panorama yang jarang mereka temui itu. Sandi sangat senang
melihat teman-temannya begitu bahagia. Ingin rasanya ia bersama mereka lebih
lama, terkadang antara melihat kebahagiaan itu dan mengingat kematian akan
segera menjemputnya membuat Sandi semakin takut akan datang hari dimana ia tidak
dapat melakukan apa-apa lagi.
“ Mungkin ini perjalanan terakhirku
bersama mereka” Bisiknya.
Mereka pun kembali, Sandi merasa lebih
baik saat perjalanan pulang. Semuanya bergembira mengantarkan Sandi kembali ke
rumah sakit karena ia berjanji akan mengikuti perwatan serius sepulang dari
perjalanan mereka. Tetapi tidak ada yang menyadari bahwa saat itu Sandi sedang
mengalami masa-masa kritis, mereka meninggalkan Sandi tanpa mengetahuinya.
Setelah menjalani beberapa pengobatan
dan sedang beristirahat, tiba-tiba pandanganya mulai kabur, pernapasannya mulai
terganggu dan badannya pun mulai melemah. Kali ini lebih hebat dari biasanya,
dan semakin berat bagaikan bernapas diruang hampa udara, ia menahan kelopak
matanya yang perlahan mulai menghalangi pandangannya. Tetapi ia tak kuasa menahan rasa capeknya
itu, dan ia pun tertidur.
Beberapa bulan kemudia, hasil
kelulusan sudah dapat dilihat. Mereka semua lulus, tentu saja ini kabar yang
menggembirakan bagi semuanya. Pesta kelulusan pun dilaksanakan, siswa-siswi
yang baru lulus itu pun merasa senang dengan hasil jeripayah selama ini.
Satu-persatu nama mereka dipanggil untuk naik ke atas panggung dan menerima
penghargaan, setelah itu mereka bersalaman satu sama lain saling memberi
selamat.
“ Miwa! “
“ Kak Bagus? Kak Herdi? kenapa Kakak
ada disini?”
“ Oh, Kami kebetulan mau memberikan ini
“ Kak Herdi mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya.
Miwa memperhatikan alamat yang dituju
pada amplop itu, ia pun segera berlari menuju tempat tersebut diikuti oleh Kak
Bagus dan Kak Herdi dibelakangnya.
“Sandi Sandi ! Universitas favoritmu menggundangmu
menjadi mahasiswa mereka! Hebat kan?” Miwa berlari-lari sambil membawa beberapa
carik kertas.
“ Aku simpan disini supaya kamu bisa
lihat, kamu pasti senang kan? Selamat ya! “
Miwa terdiam menatetapi amplop yang
baru saja ia simpan dan perlahan-lahan mulai menjatuhkan lututnya di tanah, Miwa
tak kuasa menahan tangis dan sedihnya, air matapun mengalir membasahi pipinya.
Semakin lama ia melihat kertas itu semakin sedih persaannya ketika membayangkan
Sandi akan merasa senang ketika menerima amplop itu.
Kak Bagus yang awalnya terdiam bergerak
mendekati Miwa, ia membantu Kak Herdi menenangkan Miwa. Sudah dua bulan berlalu
semenjak terakhir kali mereka bertemu Sandi, penyakit TB yang diderita Sandi
mengganas hingga membuat pemuda ini harus kehilangan nyawanya. Semua orang yang
mendengar berita ini turut berduka cita.
Dari kejauhan seorang dokter datang
sambil membawa secarik kertas, ia menemukan kertas itu di kasur tempat Sandi
menjalani perawatan. Dokter itu memberikan kertas yang ia bawa kepada Kak
Herdi.
“ Sandi ingin kalian membacanya “ Kata
dokter itu.
Tanpa berpikir panjang lebar, Kak
Herdi membuka surat itu dan mulai membacakannya isisnya.
Untuk Kak
Bagus, Kak Herdi, dan Miwa.
Maafkan aku, mungkin ketika kalian membaca surat ini aku tidak bisa bersama kalian.Terima kasih sudah setia menemaniku selama ini, kalau tidak ada kalian mungkin aku tidak akan sebahagia ini, aku adalah orang yang sangat beruntung dapat bertemu kalian.
Maafkan aku, mungkin ketika kalian membaca surat ini aku tidak bisa bersama kalian.Terima kasih sudah setia menemaniku selama ini, kalau tidak ada kalian mungkin aku tidak akan sebahagia ini, aku adalah orang yang sangat beruntung dapat bertemu kalian.
Mungkin kalian sudah tahu, sebelumnya aku hanyalah anak
jalanan yang tidak punya apa-apa. Tetapi, semenjak aku bertemu keluarga Kak
Bagus dan tinggal bersama mereka, hidupku berubah. Kak Bagus menganggapku
sebagai adiknya sendiri, Kak Bagus juga mengenalkanku dengan Kak Herdi, sahabat
terbaiknya dan juga merupakan seorang pemimpin yang hebat, maafkan aku ya
Kak,aku selalu menjahili Kak Herdi, mungkin sekarang kakak merasa tenang aku
tidak menjahili kakak lagi, hehehe . Aku sangat terharu kakak-kakak mati-matian
mencari uang demi aku, aku ingin membalasnya tetapi aku tidak bisa. Semoga uang
asuransiku nanti dapat menggantikannya. Aku juga bertemu Miwa yang cerewet tetapi
juga perhatian dan baik hati, maaf aku selalu merepotkanmu selama ini. Hanya
satu pintaku, setelah aku meninggal aku mohon jangan lupakan aku. Setelah aku renungkan,
ternyata yang membuatku takut dengan
kematian karena orang-orang akan melupakanku begitu saja, aku tidak mau menjadi
terlupakan lagi, tetapi jangan juga sedih aku ingin kalian selalu tersenyum.
Permintaanku tidak buruk kan?
Oh mungkin
cuma itu yang dapat aku sampaikan, sepertinya waktu sedang tidak berpihak
padaku. Ayah dan bundaku sepertinya sudah menungguku dan aku ingin sekali
bertemu mereka dan melihat wajah mereka, teman-teman aku pergi dulu ya? Aku
berharap walaupun kita terpisah persahabatan ini akan terus berlangsung.
Aku selalu
berdo’a agar kalian senantiasa diberi kebahagiaan dan umur yang panjang. Maaf
suratku mungkin tidak sebagus karya-karya sastrawan ternama. Oh iya! Perjalanan
terakhirku bersama kalian sangat menyenangkan! Terima kasih ya!
–Sahabatmu,
Sandi –
Kesedihan mereka membuat air mata tak
tertahankan lagi merasa kehilangan Sandi, Kak Herdi tidak bisa berkata apa-apa
begitu juga Kak Bagus. Suasana mengharu biru tercipta didepan makam seorang
pemuda yang hebat. Sandi, adalah seorang siswa yang luar biasa dan pantang
menyerah, seorang siswa yang penuh dengan semangat muda dan sangat dikenal baik
oleh orang-orang disekitarnya, ia terus berjuang dalam keadaan sehat maupun sakit
bahkan hingga ajalnya menjemput. Sampai pada saat ia harus kembali kehadapan
Sang Pencipta di usianya yang muda.
- SELESAI-



Tidak ada komentar:
Posting Komentar