Kamis, 13 September 2012

Cerpen Perjalanan Terakhir (End)


Tiba-tiba menjadi semakin cerah, seketika siluet sinar matahari menembus awan membuat semuanya tampak lebih jelas, pelangi yang tadinya samar-samar mulai terlihat berkat paduan percikan air dan pancaran matahari yang semakin cerah. Tanpa pikir panjang seluruh anggota KPA turun ke aliran sungai bahkan ada pula yang bermain dekat air terjun, menikmati suasana cerah saat itu. Mereka berterima kasih kepada Sandi telah mengajak mereka melihat keindahan pemandangan ini.
Kak Bagus berlari menghampiri mereka semua sambil membawa kamera untuk berfoto didekat air terjun, latarnya sangat indah dan semuanya terlihat senang, keluhan dan rasa capek mereka diobati dengan keindahan panorama yang jarang mereka temui itu. Sandi sangat senang melihat teman-temannya begitu bahagia. Ingin rasanya ia bersama mereka lebih lama, terkadang antara melihat kebahagiaan itu dan mengingat kematian akan segera menjemputnya membuat Sandi semakin takut akan datang hari dimana ia tidak dapat melakukan apa-apa lagi.
“ Mungkin ini perjalanan terakhirku bersama mereka” Bisiknya.
Mereka pun kembali, Sandi merasa lebih baik saat perjalanan pulang. Semuanya bergembira mengantarkan Sandi kembali ke rumah sakit karena ia berjanji akan mengikuti perwatan serius sepulang dari perjalanan mereka. Tetapi tidak ada yang menyadari bahwa saat itu Sandi sedang mengalami masa-masa kritis, mereka meninggalkan Sandi tanpa mengetahuinya.
Setelah menjalani beberapa pengobatan dan sedang beristirahat, tiba-tiba pandanganya mulai kabur, pernapasannya mulai terganggu dan badannya pun mulai melemah. Kali ini lebih hebat dari biasanya, dan semakin berat bagaikan bernapas diruang hampa udara, ia menahan kelopak matanya yang perlahan mulai menghalangi pandangannya.  Tetapi ia tak kuasa menahan rasa capeknya itu, dan ia pun tertidur.
Beberapa bulan kemudia, hasil kelulusan sudah dapat dilihat. Mereka semua lulus, tentu saja ini kabar yang menggembirakan bagi semuanya. Pesta kelulusan pun dilaksanakan, siswa-siswi yang baru lulus itu pun merasa senang dengan hasil jeripayah selama ini. Satu-persatu nama mereka dipanggil untuk naik ke atas panggung dan menerima penghargaan, setelah itu mereka bersalaman satu sama lain saling memberi selamat.
“ Miwa! “
“ Kak Bagus? Kak Herdi? kenapa Kakak ada disini?”
“ Oh, Kami kebetulan mau memberikan ini “ Kak Herdi mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya.
Miwa memperhatikan alamat yang dituju pada amplop itu, ia pun segera berlari menuju tempat tersebut diikuti oleh Kak Bagus dan Kak Herdi dibelakangnya.
 “Sandi Sandi ! Universitas favoritmu menggundangmu menjadi mahasiswa mereka! Hebat kan?” Miwa berlari-lari sambil membawa beberapa carik kertas.
“ Aku simpan disini supaya kamu bisa lihat, kamu pasti senang kan? Selamat ya! “
Miwa terdiam menatetapi amplop yang baru saja ia simpan dan perlahan-lahan mulai menjatuhkan lututnya di tanah, Miwa tak kuasa menahan tangis dan sedihnya, air matapun mengalir membasahi pipinya. Semakin lama ia melihat kertas itu semakin sedih persaannya ketika membayangkan Sandi akan merasa senang ketika menerima amplop itu.
Kak Bagus yang awalnya terdiam bergerak mendekati Miwa, ia membantu Kak Herdi menenangkan Miwa. Sudah dua bulan berlalu semenjak terakhir kali mereka bertemu Sandi, penyakit TB yang diderita Sandi mengganas hingga membuat pemuda ini harus kehilangan nyawanya. Semua orang yang mendengar berita ini turut berduka cita.
Dari kejauhan seorang dokter datang sambil membawa secarik kertas, ia menemukan kertas itu di kasur tempat Sandi menjalani perawatan. Dokter itu memberikan kertas yang ia bawa kepada Kak Herdi.
“ Sandi ingin kalian membacanya “ Kata dokter itu.
Tanpa berpikir panjang lebar, Kak Herdi membuka surat itu dan mulai membacakannya isisnya.

Untuk Kak Bagus, Kak Herdi, dan Miwa.
Maafkan aku, mungkin ketika kalian membaca surat ini aku tidak bisa bersama kalian.Terima kasih sudah setia menemaniku selama ini, kalau tidak ada kalian mungkin aku tidak akan sebahagia ini, aku adalah orang yang sangat beruntung dapat bertemu kalian. 

Mungkin kalian sudah tahu, sebelumnya aku hanyalah anak jalanan yang tidak punya apa-apa. Tetapi, semenjak aku bertemu keluarga Kak Bagus dan tinggal bersama mereka, hidupku berubah. Kak Bagus menganggapku sebagai adiknya sendiri, Kak Bagus juga mengenalkanku dengan Kak Herdi, sahabat terbaiknya dan juga merupakan seorang pemimpin yang hebat, maafkan aku ya Kak,aku selalu menjahili Kak Herdi, mungkin sekarang kakak merasa tenang aku tidak menjahili kakak lagi, hehehe . Aku sangat terharu kakak-kakak mati-matian mencari uang demi aku, aku ingin membalasnya tetapi aku tidak bisa. Semoga uang asuransiku nanti dapat menggantikannya. Aku juga bertemu Miwa yang cerewet tetapi juga perhatian dan baik hati, maaf aku selalu merepotkanmu selama ini. Hanya satu pintaku, setelah aku meninggal aku mohon jangan lupakan aku. Setelah aku renungkan, ternyata  yang membuatku takut dengan kematian karena orang-orang akan melupakanku begitu saja, aku tidak mau menjadi terlupakan lagi, tetapi jangan juga sedih aku ingin kalian selalu tersenyum. Permintaanku tidak buruk kan?

Oh mungkin cuma itu yang dapat aku sampaikan, sepertinya waktu sedang tidak berpihak padaku. Ayah dan bundaku sepertinya sudah menungguku dan aku ingin sekali bertemu mereka dan melihat wajah mereka, teman-teman aku pergi dulu ya? Aku berharap walaupun kita terpisah persahabatan ini akan terus berlangsung.

Aku selalu berdo’a agar kalian senantiasa diberi kebahagiaan dan umur yang panjang. Maaf suratku mungkin tidak sebagus karya-karya sastrawan ternama. Oh iya! Perjalanan terakhirku bersama kalian sangat menyenangkan! Terima kasih ya!
–Sahabatmu, Sandi –

Kesedihan mereka membuat air mata tak tertahankan lagi merasa kehilangan Sandi, Kak Herdi tidak bisa berkata apa-apa begitu juga Kak Bagus. Suasana mengharu biru tercipta didepan makam seorang pemuda yang hebat. Sandi, adalah seorang siswa yang luar biasa dan pantang menyerah, seorang siswa yang penuh dengan semangat muda dan sangat dikenal baik oleh orang-orang disekitarnya, ia terus berjuang dalam keadaan sehat maupun sakit bahkan hingga ajalnya menjemput. Sampai pada saat ia harus kembali kehadapan Sang Pencipta di usianya yang muda.

- SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Music Playlist


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com