Semenjak kejadian itu sudah tiga
minggu Sandi tidak masuk sekolah, mungkin ia masih dalam masa pemulihan atau
mungkin juga ia merasa bersalah pada teman-temannya, tidak ada yang tahu. Belum
ada satu orang pun yang berinisiatif menjenguknya. Sepulang sekolah Miwa
bersama Kak Herdi dan Kak Bagus memutuskan untuk mengunjungi Sandi. Pintu kamar
Sandi tertutup rapat bagaikan tidak berpenghuni, Kak Bagus mengetuk pintunya tetapi
tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi dan untuk ketiga kalinya tidak ada yang
menjawab. Mereka pun memutuskan untuk mendobrak pintu itu.
“ Satu…dua…tiga! “ Kak Herdi memberi
aba-aba.
BRUAK!
“ Adoooohhh ! “
Kak Herdi kaget melihat Sandi berada
di balik pintu, mungkin Sandi hendak membukakan pintu untuk mereka tetapi Kak
Bagus dan Kak Herdi malah mendobrak pintu itu lebih dulu jadinya pintu itu
terbanting cukup keras dan mengenai Sandi hingga mulutnya berdarah.
Setelah Sandi selesai membersihkan
darahnya, mereka pun bercakap-cakap membicarakan banyak hal. Tampaknya kondisi
Sandi memang tidak memungkinkan untuk sekolah bahkan banyak yang menyarankan
agar Sandi dirawat di rumah sakit sampai penyakitnya jelas tetapi Sandi menolak,
ia tidak punya biaya untuk berobat ke rumah sakit.
“ Kamu yakin tidak akan mengunjungi dokter ? “
Tanya Kak Bagus
“ Kalau cuma batuk-batuk dan demam
ringan seperti ini sih kayanya akan sembuh dengan sendirinya, mungkin cuma
masuk angin saja, besok aku sekolah deh…. “
“ Sandi aku tahu kamu ingin sekali sekolah,
utamakan dulu kesehatanmu “ Miwa menyela.
“ Aku tidak apa-apa, aku sudah bilang,
kan?”
Tidak ada yang mengeluarkan kata-kata
lagi setelah mendengar Sandi berkata begitu. Padahal mereka sudah berusaha untuk membujuk Sandi
pergi ke rumah sakit, mereka tahu Sandi tidak punya cukup biaya untuk berobat
ke rumah sakit dan mereka sudah mengusahakan untuk membantunya tetapi tetap
saja Sandi menolak tawaran itu, ia tidak mau merepotkan teman-temannya .
Keesokan harinya tepat seperti apa
yang dikatakan Sandi, ia pergi ke sekolah. Seisi sekolah meributkan
kedatangannya, tetapi keributan itu agak sedikit berbeda dari biasanya.
Ditengah-tengah keributan itu samar-samar terdengar bisikkan bahwa mereka takut
dengan kedatangan Sandi, mungkin beberapa orang sudah mulai menebak-nebak penyakit
apa yang dideritanya.
Lama-lama isu itu pun mulai semakin
menyebar. Walaupun begitu setiap hari selalu menyenangkan bagi Sandi sehingga
ia melupakan kondisinya sendiri, ia beraktivitas seolah-olah tidak pernah
terjadi apa-apa padanya. Dia pergi ke sekolah pagi sekali, memperhatikan guru
dikelas, lalu berkumpul dengan teman-temannya pada waktu luang, atau belajar
bersama dengan mereka. Saat berkumpul dengan anggota KPA kerap kali ia
menjahili Kak Herdi hingga membuatnya kesal dan mengejar-ngejarnya walaupun
sudah mengelilingi sekolah berkali-kali. Sejauh ini semuanya terlihat normal.
***
Suatu saat, KPA sedang latihan dipimpin
oleh Sandi seperti biasanya, ia menggantikan Kak Bagus dan Kak Herdi yang sibuk
kuliah. Cuaca yang cerah seperti itu membuat mereka bertambah semangat, apalagi
cara Sandi memperagakan materi kepada mereka sangat jelas dan mudah dimengerti.
Sandi pun merasa senang dapat berbagi ilmunya kepada teman-temannya. Dan lebih
senang lagi sepertinya tanda-tanda penyakit yang menyerang Sandi mulai
menghilang perlahan. Baru saja berpikir akan sembuh, ia kembali terbatuk sambil
memegangi dadanya yang sakit hingga terduduk lemas.
“ Sandi kamu tidak apa-apa? “
“ Aku tidak apa-apa. Kamu kembali saja
ke posisi “
“ Dan membiarkan kamu seperti ini? Gak
mungkin dong Sandi ! Ayo kita ke UKS ! “ Miwa menarik tangan Sandi.
“ Aku ga apa-apa k—uhuk! Uhuk! “
Miwa kaget melihat Sandi terbatuk
seperti itu dan tidak disangka ia melihat tangan Sandi penuhi oleh cairan agak
kental berwarna kemerahan. Ya, darah, darah
yang keluar dari mulutnya.
“ S—Sandi d-darah! “
Sandi pun terkejut ketika melihat
darah keluar dari mulutnya, ia kira batuk itu sudah mulai membaik karena selama
ini frekuensi batuknya mulai berkurang tetapi ternyata malah bertambah parah
dan kini mengeluarkan darah segar. Ketika Sandi bergegas keluar dari ruang
latihan untuk meredakan batuknya, badannya kembali terasa lemas dan ia pun
ambruk seketika.
Ketika sadar Sandi sudah berada di
sebuah ruangan serba putih dan tidak banyak benda dalam ruangan itu. Sandi
berusaha bangun dan hendak kembali ke ruang latihan tetapi ia malah mendapati Miwa, Kak Herdi dan Kak Bagus sedang berbicara
dengan seorang dokter di depan pintu. Sandi yang penasaran apa yang sebenarnya
terjadi sampai-sampai Kak Herdi dan Kak Bagus menyempatkan diri untuk datang
ditengah kesibukan mereka di perkuliahan. Ia pun mendengarkan pembicaraan
mereka diam-diam.
“ Dokter, sebenarnya apa yang terjadi
pada Sandi?” Tanya Kak Bagus.
“ Kalau boleh tahu memangnya Sandi sakit apa ?
“ Kak Herdi pun ikut bertanya.
Sang dokter terdiam, mungkin beliau
bingung akan menjelaskannya darimana dan bagaimana penyakit itu. Akhirnya
dokter tersebut menggerakan mulutnya dan berbicara.
“ Tuberkulosis “
“ ia menderita Tuberkulosis stadium
akhir, bakteri ini akan terus menggerogotinya selama sisa hidupnya ” Lanjut
dokter.
“ Lalu…. Berapa lama Sandi akan
bertahan ? “ Tanya Kak Herdi.
“Sayangnya penyakit ini sudah dideritanya sejak kecil, bakterinya pun sudah sangat
berkembang. Mohon maaf, menurut pemeriksaan sepertinya ia akan bertahan tidak
lebih dari 5-6 bulan “
Tuberkulosis, penyakit yang selama ini
menjadi kasus besar dunia kesehatan dan menjadi perhatian khusus bagi WHO adalah
penyakit yang sulit untuk diobati apalagi ketika mencapai stadium akhir. Ketika
mendengar nama penyakit itu Miwa merasa seluruh tubuhnya luluh. Kak Bagus merasa
tidak percaya dengan apa yang diderita Sandi adalah salah satu penyakit yang
berada dalam jejeran penyakit yang mematikan. Kak Herdi semakin gelisah, ia pun
tidak menyangka bahwa kenyataannya Sandi telah mengidap penyakit ini sejak kecil
.
Sandi pun terkejut mendengar bahwa
penyakit yang dideritanya adalah penyakit yang sangat akut. Fase batuk darah
adalah fase terakhir dari Tuberkulosis (TB). Ketika hendak kembali ke tempat tidur
untuk menenangkan diri, tidak sengaja ia membuat Kak Herdi dan yang lainnya
menyadari kehadirannya. Sandi hanya bisa berdiri ditempat tanpa berani
memandangi mereka.
“ Sandi, kamu dengar semuanya? “ Tanya
Kak Bagus.
“Ya” Sandi menjawab pelan.
Sandi kembali terdiam, ia ingin sekali
kembali ke sekolah tetapi disisi lain ia merasa takut apalagi mendengar nama
penyakit yang dideritanya, ia masih menginginkan hidupnya yang kini hanya bisa
bertahan paling lama beberapa bulan, itu pun jika mendapat pengawasan khusus
dari tim medis. Perasaan dilema muncul
pada diri Sandi.
“ Kak Bagus. Ijinkan aku melihat air
terjun itu bersama dengan yang lain. “ Katanya dengan nada gemetar.
“ Tetapi kondisi badanmu tidak me—“
“Aku tahu. Karena itu untuk yang
terakhir kalinya, aku hanya ingin melihat air terjun itu! Kumohon, aku tidak
ingin membuat yang lain kecewa, ini semua gara-gara aku. Jika aku tidak seperti
ini mungkin kami bisa menikmati keindahan air terjun itu!“
Kak Bagus, Kak Herdi dan Sandi pun mencoba
berbicara lagi dengan dokter. Setelah berbicara dengan dokter-dokter lain Sandi
pun diijinkan untuk pergi dibawah pengawasan yang ketat, dokter tidak dapat
berbuat banyak. Mereka hanya berharap dengan keinginan Sandi yang terpenuhi ia
menjadi lebih bersemangat untuk sembuh. Akhirnya pergilah mereka menuju air
terjun yang sempat tertunda sebelumnya.
Anggota KPA yang lain mungkin banyak
bertanya-tanya. Mungkin mereka merasa heran dengan acara yang dilaksanakan
mendadak, terlebih lagi Sandi yang harusnya sedang sakit malah ikut dalam
perjalanan tersebut, padahal kondisinya belum tentu memungkinkan untuk
melakukan perjalanan.
Memang benar apa yang ada dibenak
mereka, Sandi memang seharusnya tidak memaksakan diri. Ia selalu terbatuk disetiap
perjalanan, sebentar-sebentar mereka harus beristirahat karena darah dari mulut
Sandi tak ada henti-hentinya mengalir, sesekali suara mengi yang terdengar
mengganggu mereka.
“ Hentikan Sandi ! “ kata salah satu
dari mereka.
“ Kalau begini terus kamu akan—“
Sandi tidak menanggapi apa yang
dikatakan teman-temannya, ia sibuk mengumpulkan energinya agar ia masih bisa
terus berjalan sampai tempat tujuan. Ditambah lagi cuaca yang kurang bagus dan
keadaan jalur menuju air terjun itu pun sangat sulit untuk dilalui sehingga
mereka sering kali merasa kesusahan untuk membantu Sandi melewati tantangan
itu.
“ Sandi kamu mau apa sih? “
“ Sandi menyerah saja deh! “
Keluhan dan rasa kesal anggota KPA
mulai menjadi-jadi, tetapi Sandi tetap berjalan tanpa memedulikan mereka. Kak
Bagus dan Kak Herdi pun tampaknya mulai kelelahan, tetapi mereka tetap membantu
Sandi. Sering kali ada yang merencanakan meninggalkan barisan tetapi Kak Herdi
menghentikan mereka, semakin lama kesabaran anggota KPA mulai menurun sehingga semakin
sering Sandi mendengar ocehan bahkan ejekan agar Sandi menghentikan
perjalanannya.
Beberapa kilometer telah ditempuh, dan
akhirnya sampailah mereka ketempat yang mereka tuju. Semua anggota KPA terpana
melihat keindahan air terjun itu. Percikan airnya sangat sejuk dan terdapat lekukan
indah sebuah pelangi dari pancaran matahari yang bercampur dengan air menghiasi
air terjun itu, di kiri dan di kanannya terdapat tumbuh-tumbuhan dan
bunga-bunga yang indah. Aliran sungainya dihiasai berbagai bentuk dan ukuran
batu-batu yang unik.. Ditengah kekaguman para anggota KPA, Sandi berbalik
kearah mereka seraya berkata.
“ Maafkan aku, gara-gara aku kalian
harus menunda perjalanan ini. Aku harap sekarang kalian tidak merasa menyesal
melakukan perjalanan ini bersamaku,“
“ aku sangat menyesal telah membuat
kalian kecewa, maafkan aku ya “
Mendengar Sandi berkata seperti itu,
mereka terdiam seribu bahasa, merenungkan keluhan-keluhan mereka yang telah
menggerakan Sandi sehingga ia rela melakukannya demi mengobati rasa kecewa teman-temannya
padahal kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Mereka semua terharu dengan apa
yang dilakukan Sandi, selama ini mereka hanya mengeluh dan menyalahkan
semuannya pada Sandi dan kini mereka sadar betapa Sandi ingin melihat keindahan
air terjun ini bersama mereka.
“ Kamu bodoh Sandi ! “ Kata salah satu
dari mereka
“ Seharusnya kamu memberitahu kami
dulu, kalau kamu terus seperti ini kamu akan—“
“ Mati, ya, aku sudah tahu. Semua
orang pasti mati “ Sandi tersenyum.
Orang itu pun terdiam tidak bisa
berkata apa-apa, mungkin Sandi sudah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya,
bagi Sandi kematian itu sudah didepan mata apa lagi kondisinya sudah menjadi
alarm yang memberi memperingatan padanya terus-menerus. Mereka semua sangat
menyesal pada apa yang mereka lakukan.
***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar