Kamis, 13 September 2012

Cerpen Perjalanan Terakhir Part 2


Semenjak kejadian itu sudah tiga minggu Sandi tidak masuk sekolah, mungkin ia masih dalam masa pemulihan atau mungkin juga ia merasa bersalah pada teman-temannya, tidak ada yang tahu. Belum ada satu orang pun yang berinisiatif menjenguknya. Sepulang sekolah Miwa bersama Kak Herdi dan Kak Bagus memutuskan untuk mengunjungi Sandi. Pintu kamar Sandi tertutup rapat bagaikan tidak berpenghuni, Kak Bagus mengetuk pintunya tetapi tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi dan untuk ketiga kalinya tidak ada yang menjawab. Mereka pun memutuskan untuk mendobrak pintu itu.
“ Satu…dua…tiga! “ Kak Herdi memberi aba-aba.
BRUAK!
“ Adoooohhh ! “
Kak Herdi kaget melihat Sandi berada di balik pintu, mungkin Sandi hendak membukakan pintu untuk mereka tetapi Kak Bagus dan Kak Herdi malah mendobrak pintu itu lebih dulu jadinya pintu itu terbanting cukup keras dan mengenai Sandi hingga mulutnya berdarah.
Setelah Sandi selesai membersihkan darahnya, mereka pun bercakap-cakap membicarakan banyak hal. Tampaknya kondisi Sandi memang tidak memungkinkan untuk sekolah bahkan banyak yang menyarankan agar Sandi dirawat di rumah sakit sampai penyakitnya jelas tetapi Sandi menolak, ia tidak punya biaya untuk berobat ke rumah sakit.
 “ Kamu yakin tidak akan mengunjungi dokter ? “ Tanya Kak Bagus
“ Kalau cuma batuk-batuk dan demam ringan seperti ini sih kayanya akan sembuh dengan sendirinya, mungkin cuma masuk angin saja, besok aku sekolah deh…. “
 “ Sandi aku tahu kamu ingin sekali sekolah, utamakan dulu kesehatanmu “ Miwa menyela.
“ Aku tidak apa-apa, aku sudah bilang, kan?”
Tidak ada yang mengeluarkan kata-kata lagi setelah mendengar Sandi berkata begitu. Padahal  mereka sudah berusaha untuk membujuk Sandi pergi ke rumah sakit, mereka tahu Sandi tidak punya cukup biaya untuk berobat ke rumah sakit dan mereka sudah mengusahakan untuk membantunya tetapi tetap saja Sandi menolak tawaran itu, ia tidak mau merepotkan teman-temannya .
Keesokan harinya tepat seperti apa yang dikatakan Sandi, ia pergi ke sekolah. Seisi sekolah meributkan kedatangannya, tetapi keributan itu agak sedikit berbeda dari biasanya. Ditengah-tengah keributan itu samar-samar terdengar bisikkan bahwa mereka takut dengan kedatangan Sandi, mungkin beberapa orang sudah mulai menebak-nebak penyakit apa yang dideritanya.
Lama-lama isu itu pun mulai semakin menyebar. Walaupun begitu setiap hari selalu menyenangkan bagi Sandi sehingga ia melupakan kondisinya sendiri, ia beraktivitas seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa padanya. Dia pergi ke sekolah pagi sekali, memperhatikan guru dikelas, lalu berkumpul dengan teman-temannya pada waktu luang, atau belajar bersama dengan mereka. Saat berkumpul dengan anggota KPA kerap kali ia menjahili Kak Herdi hingga membuatnya kesal dan mengejar-ngejarnya walaupun sudah mengelilingi sekolah berkali-kali. Sejauh ini semuanya terlihat normal.
***
Suatu saat, KPA sedang latihan dipimpin oleh Sandi seperti biasanya, ia menggantikan Kak Bagus dan Kak Herdi yang sibuk kuliah. Cuaca yang cerah seperti itu membuat mereka bertambah semangat, apalagi cara Sandi memperagakan materi kepada mereka sangat jelas dan mudah dimengerti. Sandi pun merasa senang dapat berbagi ilmunya kepada teman-temannya. Dan lebih senang lagi sepertinya tanda-tanda penyakit yang menyerang Sandi mulai menghilang perlahan. Baru saja berpikir akan sembuh, ia kembali terbatuk sambil memegangi dadanya yang sakit hingga terduduk lemas.
“ Sandi kamu tidak apa-apa? “
“ Aku tidak apa-apa. Kamu kembali saja ke posisi  “
“ Dan membiarkan kamu seperti ini? Gak mungkin dong Sandi ! Ayo kita ke UKS ! “ Miwa menarik tangan Sandi.
“ Aku ga apa-apa k—uhuk! Uhuk! “
Miwa kaget melihat Sandi terbatuk seperti itu dan tidak disangka ia melihat tangan Sandi penuhi oleh cairan agak kental berwarna kemerahan. Ya,  darah, darah yang keluar dari mulutnya.
“ S—Sandi d-darah! “
Sandi pun terkejut ketika melihat darah keluar dari mulutnya, ia kira batuk itu sudah mulai membaik karena selama ini frekuensi batuknya mulai berkurang tetapi ternyata malah bertambah parah dan kini mengeluarkan darah segar. Ketika Sandi bergegas keluar dari ruang latihan untuk meredakan batuknya, badannya kembali terasa lemas dan ia pun ambruk seketika.
Ketika sadar Sandi sudah berada di sebuah ruangan serba putih dan tidak banyak benda dalam ruangan itu. Sandi berusaha bangun dan hendak kembali ke ruang latihan tetapi ia malah mendapati  Miwa, Kak Herdi dan Kak Bagus sedang berbicara dengan seorang dokter di depan pintu. Sandi yang penasaran apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai Kak Herdi dan Kak Bagus menyempatkan diri untuk datang ditengah kesibukan mereka di perkuliahan. Ia pun mendengarkan pembicaraan mereka diam-diam.
“ Dokter, sebenarnya apa yang terjadi pada Sandi?” Tanya Kak Bagus.
 “ Kalau boleh tahu memangnya Sandi sakit apa ? “ Kak Herdi pun ikut bertanya.
Sang dokter terdiam, mungkin beliau bingung akan menjelaskannya darimana dan bagaimana penyakit itu. Akhirnya dokter tersebut menggerakan mulutnya dan berbicara.
“ Tuberkulosis “
“ ia menderita Tuberkulosis stadium akhir, bakteri ini akan terus menggerogotinya selama sisa hidupnya ” Lanjut dokter.
“ Lalu…. Berapa lama Sandi akan bertahan ? “ Tanya Kak Herdi.
“Sayangnya penyakit ini sudah dideritanya sejak kecil, bakterinya pun sudah sangat berkembang. Mohon maaf, menurut pemeriksaan sepertinya ia akan bertahan tidak lebih dari 5-6 bulan “

Tuberkulosis, penyakit yang selama ini menjadi kasus besar dunia kesehatan dan menjadi perhatian khusus bagi WHO adalah penyakit yang sulit untuk diobati apalagi ketika mencapai stadium akhir. Ketika mendengar nama penyakit itu Miwa merasa seluruh tubuhnya luluh. Kak Bagus merasa tidak percaya dengan apa yang diderita Sandi adalah salah satu penyakit yang berada dalam jejeran penyakit yang mematikan. Kak Herdi semakin gelisah, ia pun tidak menyangka bahwa kenyataannya Sandi telah mengidap penyakit ini sejak kecil .
Sandi pun terkejut mendengar bahwa penyakit yang dideritanya adalah penyakit yang sangat akut. Fase batuk darah adalah fase terakhir dari Tuberkulosis (TB). Ketika hendak kembali ke tempat tidur untuk menenangkan diri, tidak sengaja ia membuat Kak Herdi dan yang lainnya menyadari kehadirannya. Sandi hanya bisa berdiri ditempat tanpa berani memandangi mereka.
“ Sandi, kamu dengar semuanya? “ Tanya Kak Bagus.
“Ya” Sandi menjawab pelan.
Sandi kembali terdiam, ia ingin sekali kembali ke sekolah tetapi disisi lain ia merasa takut apalagi mendengar nama penyakit yang dideritanya, ia masih menginginkan hidupnya yang kini hanya bisa bertahan paling lama beberapa bulan, itu pun jika mendapat pengawasan khusus dari tim medis. Perasaan dilema muncul pada diri Sandi.
“ Kak Bagus. Ijinkan aku melihat air terjun itu bersama dengan yang lain. “ Katanya dengan nada gemetar.
“ Tetapi kondisi badanmu tidak me—“
“Aku tahu. Karena itu untuk yang terakhir kalinya, aku hanya ingin melihat air terjun itu! Kumohon, aku tidak ingin membuat yang lain kecewa, ini semua gara-gara aku. Jika aku tidak seperti ini mungkin kami bisa menikmati keindahan air terjun itu!“
Kak Bagus, Kak Herdi dan Sandi pun mencoba berbicara lagi dengan dokter. Setelah berbicara dengan dokter-dokter lain Sandi pun diijinkan untuk pergi dibawah pengawasan yang ketat, dokter tidak dapat berbuat banyak. Mereka hanya berharap dengan keinginan Sandi yang terpenuhi ia menjadi lebih bersemangat untuk sembuh. Akhirnya pergilah mereka menuju air terjun yang sempat tertunda sebelumnya.
Anggota KPA yang lain mungkin banyak bertanya-tanya. Mungkin mereka merasa heran dengan acara yang dilaksanakan mendadak, terlebih lagi Sandi yang harusnya sedang sakit malah ikut dalam perjalanan tersebut, padahal kondisinya belum tentu memungkinkan untuk melakukan perjalanan.
Memang benar apa yang ada dibenak mereka, Sandi memang seharusnya tidak memaksakan diri. Ia selalu terbatuk disetiap perjalanan, sebentar-sebentar mereka harus beristirahat karena darah dari mulut Sandi tak ada henti-hentinya mengalir, sesekali suara mengi yang terdengar mengganggu mereka.
“ Hentikan Sandi ! “ kata salah satu dari mereka.
“ Kalau begini terus kamu akan—“
Sandi tidak menanggapi apa yang dikatakan teman-temannya, ia sibuk mengumpulkan energinya agar ia masih bisa terus berjalan sampai tempat tujuan. Ditambah lagi cuaca yang kurang bagus dan keadaan jalur menuju air terjun itu pun sangat sulit untuk dilalui sehingga mereka sering kali merasa kesusahan untuk membantu Sandi melewati tantangan itu.
“ Sandi kamu mau apa sih? “
“ Sandi menyerah saja deh! “
Keluhan dan rasa kesal anggota KPA mulai menjadi-jadi, tetapi Sandi tetap berjalan tanpa memedulikan mereka. Kak Bagus dan Kak Herdi pun tampaknya mulai kelelahan, tetapi mereka tetap membantu Sandi. Sering kali ada yang merencanakan meninggalkan barisan tetapi Kak Herdi menghentikan mereka, semakin lama kesabaran anggota KPA mulai menurun sehingga semakin sering Sandi mendengar ocehan bahkan ejekan agar Sandi menghentikan perjalanannya.
Beberapa kilometer telah ditempuh, dan akhirnya sampailah mereka ketempat yang mereka tuju. Semua anggota KPA terpana melihat keindahan air terjun itu. Percikan airnya sangat sejuk dan terdapat lekukan indah sebuah pelangi dari pancaran matahari yang bercampur dengan air menghiasi air terjun itu, di kiri dan di kanannya terdapat tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga yang indah. Aliran sungainya dihiasai berbagai bentuk dan ukuran batu-batu yang unik.. Ditengah kekaguman para anggota KPA, Sandi berbalik kearah mereka seraya berkata.
“ Maafkan aku, gara-gara aku kalian harus menunda perjalanan ini. Aku harap sekarang kalian tidak merasa menyesal melakukan perjalanan ini bersamaku,“
“ aku sangat menyesal telah membuat kalian kecewa, maafkan aku ya “
Mendengar Sandi berkata seperti itu, mereka terdiam seribu bahasa, merenungkan keluhan-keluhan mereka yang telah menggerakan Sandi sehingga ia rela melakukannya demi mengobati rasa kecewa teman-temannya padahal kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Mereka semua terharu dengan apa yang dilakukan Sandi, selama ini mereka hanya mengeluh dan menyalahkan semuannya pada Sandi dan kini mereka sadar betapa Sandi ingin melihat keindahan air terjun ini bersama mereka.
“ Kamu bodoh Sandi ! “ Kata salah satu dari mereka
“ Seharusnya kamu memberitahu kami dulu, kalau kamu terus seperti ini kamu akan—“
“ Mati, ya, aku sudah tahu. Semua orang pasti mati “ Sandi tersenyum.
Orang itu pun terdiam tidak bisa berkata apa-apa, mungkin Sandi sudah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, bagi Sandi kematian itu sudah didepan mata apa lagi kondisinya sudah menjadi alarm yang memberi memperingatan padanya terus-menerus. Mereka semua sangat menyesal pada apa yang mereka lakukan.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Music Playlist


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com